Insentif dari Pemerintah Belum Cair, Banyak Nakes yang Resign dan Alih Profesi

Sabtu, 17 Juli 2021 | 13:11 WIB
Ilustrasi/net Ilustrasi/net

RIAU24.COM - Dikarenakan banyaknya beban kerja yang tak sebanding dan insentif yang belum cair dari pemerintah, banyak tenaga kesehatan (nakes) yang berhenti dan memilih profesi lain di tengah pandemi Corona (COVID-19).

Dilansir dari Detik.com, Ketua Dokter Indonesia Bersatu, Eva Sri Diana Chaniago mengatakan jika fenomena tersebut bukan hal yang biasa.

"Jumlah yang resign nggak biasa. Banyak nakes yang resign ini bukan karena hal biasa. Jadi jumlahnya banyak, nggak kayak biasa. Jadi kebanyakan bukan PNS, yang tidak punya ikatan dengan rumah sakit. Bahkan misalnya relawan. Relawan itu kan istilah benar-benar ditaruh pemerintah di situ. Jadi gajinya memang dari insentif," ujar Eva, Jumat, 16 Juli 2021.

Baca Juga: Musisi Dunia Berduka! Mantan Drummer Slipknot Joey Jordison Meninggal Dunia di Usia 46 Tahun

Eva menyebutkan, insentif itu belum cair karena pemerintah belum membayar klaim tagihan dari rumah sakit. Pasalnya, klaim itulah yang nantinya digunakan untuk membayar gaji karyawan.

"Selama pandemi ini banyak klaim yang belum dibayar sama Kemenkes. Rumah sakit jadinya membayar ke karyawannya juga susah, kadang dicicil," jelasnya.

Dia kemudian menjelaskan kebanyakan dari mereka memilih alih profesi. Bahkan, ada yang memilih profesi sebagai ojek online. Ada pula yang justru memilih bekerja untuk homecare.

Baca Juga: Kedekatan Ayu Ting Ting Bersama Robby Purba, Netizen: Semoga Jodoh

"Kebanyakan alih profesi. Jadi dagang, malah ada yang ngegojek. Ada yang alasannya sekolah, ada yang berhenti aja karena nggak boleh suami karena punya komorbid. Yang jelas mereka bilang kerjanya nggak sebanding sama beban," terangnya.

"Banyak juga teman-teman nakes yang lari ke jasa homecare. Ini menjanjikan. Karena dari pemerintah dapetnya paling berapa. Kalau di homecare sekali datangin pasien bisa Rp 350 ribu," kata dia lagi.

Dia juga mengaku belum melaporkan hal ini secara formal ke Kemenkes. Tapi, pihaknya sedang berkomunikasi dengan Ikatan Dokter Indonesia (IDI).

PenulisR24/ibl


Loading...
Loading...