Dipasangkan Alat Peledak, Anak-anak di Myanmar Disandera karena Orang Tua Mereka Ikut Protes Anti-militer sejak Kudeta

Senin, 19 Juli 2021 | 10:17 WIB
google google

RIAU24.COM - Sejak kudeta Myanmar 1 Februari, puluhan anak terbunuh dan ratusan warga ditahan semena-mena. Gejolak politik hingga kini berlanjut, bahkan saat pandemi Covid-19 meluas.

Komite hak anak PBB melaporkan bahwa 75 anak terbunuh dan 1.000 warga ditangkap sejak 1 Februari, dikutip dari Al Jazeera 17 Juli 2021.
Baca Juga: Atlet Aljazair Tolak Lawan Israel dan Mundur Olimpiade Tokyo 2020, Netizen: Harusnya Dikalahkan dan Hadiah Kasih Palestina


“Anak-anak di Myanmar dikepung dan menghadapi korban jiwa akibat kudeta militer,” kata ketua komite, Mikiko Otani dalam sebuah pernyataan.

Penduduk Myanmar berupaya mengambil bagian melalui protes massal, namun ditumpas habis oleh militer brutal yang gulingkan Aung San Suu Kyi.

“Anak-anak terpapar kekerasan tanpa pandang bulu, penembakan acak, dan penangkapan sewenang-wenang setiap hari,” kata Otani.

Baca Juga: Terungkap! Begini Cara Taliban Kuasai Hampir Setengah Afghanistan Dengan Cepat

"Mereka menodongkan senjata ke arah anak-anak. Anak-anak itu juga melihat hal yang sama terjadi pada orang tua dan saudara mereka."

Komite hak anak PBB mengecam pembunuhan ana-anak oleh junta dan polisi. Salah satunya seorang gadis berusia enam tahun di kota Mandalay. Gadis malang itu ditembak di bagian perut oleh polisi.

Komite juga mengecam penahanan anak-anak, diduga militer sengaja menyandera anak sebab tak bisa menangkap orang tua mereka. Kejadian ini terjadi pada seorang anak berusia lima tahun. Gadis itu sengaja disandera karena ayahnya membantu mengorganisir protes anti-militer.

Jumat lalu, situs berita Myanmar Now juga melaporkan bahwa dua anak di bawah umur, berusia 12 dan 15 tahun ditahan lengkap dengan bahan peledak.

“Jika krisis ini berlanjut, seluruh generasi anak-anak berisiko menderita konsekuensi fisik, psikologis, emosional, pendidikan dan ekonomi yang mendalam, membuat mereka kehilangan masa depan yang sehat dan produktif,” Otani memperingatkan.

Pemantau hak asasi manusia, Asosiasi Bantuan untuk Tahanan Politik (AAPP) di Myanmar, melaporkan setidaknya 912 orang tewas, 6.770 ditangkap dan 5.277 lainnya saat ini ditahan, sementara 1.963 masih berstatus buronan. 

 

PenulisR24/ame


Loading...
Loading...