Perang Rusia-Ukraina, Mantan PM Jepang Yoshiro Mori: Jangan Putin Saja yang Dikritik Zelensky Juga

Selasa, 22 November 2022 | 11:23 WIB
Mantan PM Jepang, Yoshiro Mori sebut kritikan terhadap Putin itu tidak adil karena Zelensky juga telah membuat rakyatnya menderita /Reuters Mantan PM Jepang, Yoshiro Mori sebut kritikan terhadap Putin itu tidak adil karena Zelensky juga telah membuat rakyatnya menderita /Reuters

RIAU24.COM - Mantan Perdana Menteri Jepang, Yoshiro Mori menilai kritikan untuk Presiden Rusia Vladimir Putin tidaklah adil karena Presiden Zelensky juga harus dikritik sebab telah membuat rakyatnya menderita.

Baca Juga: Sehari Sebelum Agitasi Anti-rezim, 1.200 Pelajar di Iran Jatuh Sakit Akibat Keracunan Makanan

Hal ini diungkapkan Mori karena menilai pemberitaan mengenai konflik Rusia dan Ukraina di media Jepang yang terkesan bias.

“Saya tidak begitu mengerti mengapa hanya (Presiden Rusia Vladimir) Putin yang dikritik sementara Tuan Zelensky tidak bertanggung jawab sama sekali. Ini bermasalah. Tuan Zelensky telah membuat banyak orang Ukraina menderita,” ujar Mori dalam pidatonya di acara politik di Tokyo pada Jumat (18/11/2022), seperti dikutip Kyodo News.

“Media Jepang bias ke satu sisi. Hal ini dipengaruhi laporan dari Barat. Mau tidak mau saya merasa mereka hanya mengandalkan laporan Eropa dan Amerika,” papar dia.

Mori mengkritik posisi Perdana Menteri Jepang saat ini Fumio Kishida tentang konflik tersebut sebagai "sepihak" dan condong ke Amerika Serikat (AS).

Mori juga memperingatkan Rusia dapat menggunakan senjata nuklir jika situasinya memburuk.

Putin menegaskan kembali bulan lalu bahwa Moskow akan mematuhi doktrin nuklirnya, yang menyatakan Rusia akan menggunakan persenjataan nuklirnya hanya sebagai tanggapan atas serangan dengan senjata pemusnah massal atau jika keberadaan negara itu sendiri dipertaruhkan.

Baca Juga: Pria Louisiana Menemukan Perahu Abad ke-19 Saat Sungai Mississippi Mengering

Sekedar informasi, setelah memegang berbagai jabatan kabinet pada 1980-an dan 90-an, Mori menjabat sebagai perdana menteri Jepang dari 2000-2001.

Dia kemudian memimpin panitia penyelenggara Olimpiade Musim Panas Tokyo 2020, tetapi mengundurkan diri beberapa bulan sebelum acara dimulai karena skandal pernyataan seksis yang dia buat di suatu pertemuan.

Jepang, bersama dengan banyak negara Barat, memberlakukan sanksi terhadap Rusia setelah melancarkan operasi militernya di Ukraina pada akhir Februari.

Moskow menanggapi dengan memasukkan lebih dari 380 anggota parlemen Jepang ke daftar hitam dan melarang Kishida dan anggota kabinet tinggi lainnya memasuki negara itu.

(***)

PenulisR24/tya


Loading...

Terpopuler

Loading...