Asia Tenggara Memanfaatkan Tenaga Nuklir untuk Mempercepat Transisi Energi
Reaktor modular kecil, yang menurut para pendukungnya dapat menghasilkan hingga sepertiga daya reaktor tradisional, dapat dibangun lebih cepat dan dengan biaya lebih rendah daripada reaktor daya besar, yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan lokasi tertentu. Para pendukungnya mengatakan reaktor modular kecil lebih aman karena desainnya lebih sederhana, daya inti lebih rendah, dan lebih banyak cairan pendingin, sehingga operator memiliki lebih banyak waktu untuk merespons jika terjadi kecelakaan.
Para kritikus mempertanyakan seberapa murah teknologi tersebut karena reaktor yang lebih kecil belum banyak digunakan secara komersial, kata Putra Adhiguna dari lembaga pemikir Energy Shift Institute yang berpusat di Jakarta.
Reaktor modular kecil yang sudah beroperasi dijalankan oleh badan usaha milik negara yang tidak transparan tentang kinerja atau biaya. Biaya reaktor pertama yang akan digunakan secara komersial di AS meningkat sekitar setengahnya sebelum dibatalkan, katanya. Proyek yang berbasis di Idaho tersebut memiliki target untuk menyediakan listrik selama 40 tahun dengan harga $55 per megawatt-jam, tetapi biaya proyek naik menjadi $89 per MWh, menurut laporan oleh The Institute for Energy Economics and Financial Analysis.
Bencana nuklir meredupkan antusiasme sebelumnya terhadap tenaga nuklir di Asia Tenggara. Bencana Chernobyl di Ukraina tahun 1986 merupakan faktor di balik keputusan untuk menunda proyek di Filipina. Kerusakan pada tahun 2011 di pembangkit listrik tenaga nuklir Dai-ichi di Fukushima, Jepang, menyusul gempa bumi dan tsunami dahsyat juga menimbulkan kekhawatiran, yang menyebabkan Thailand menghentikan rencana tenaga nuklirnya. Pada tahun 2018, Perdana Menteri Malaysia saat itu, Mahathir Mohamad, mengutip bencana tersebut ketika memutuskan untuk tidak menggunakan energi nuklir.
Beberapa tantangan lain masih ada. Pasar untuk teknologi nuklir masih terpusat di beberapa negara — Rusia mengendalikan sekitar 40 persen pasokan uranium yang diperkaya di dunia — dan ini merupakan "faktor risiko untuk masa depan," kata laporan IEA. Ditambahkan pula bahwa pembuangan bahan bakar bekas dan limbah radioaktif lainnya secara aman sangat penting untuk memperoleh penerimaan publik terhadap tenaga nuklir.
Bagi negara-negara seperti Vietnam, kurangnya insinyur dan ilmuwan terlatih juga menjadi kendala besar. Diperkirakan akan dibutuhkan sekitar 2.400 personel terlatih untuk menghidupkan kembali program nuklirnya.