Menu

Shofwan Santai dengan Sikap Nahdliyyin yang curiga terhadap susunan kepanitiaan Muktamar ke-35 NU

Azhar 3 Apr 2026, 19:36
Ilustrasi bendera Nahdlatul Ulama. Sumber: Tagar.ID
Ilustrasi bendera Nahdlatul Ulama. Sumber: Tagar.ID

RIAU24.COM - Pengasuh Pondok Pesantren (PP) Sembilangan, Bangkalan, Madura, KH. Muhammad Shofwan Taj menganggap biasa jika Nahdliyyin curiga terhadap susunan kepanitiaan Muktamar ke-35 NU.

Hal ini karena yang dicurigai bukan hanya figur dan komposisi struktur kepanitiaan inti, melainkan jantung marwah jam’iyyah yang tengah dipertaruhkan dalam keputusan rapat PBNU.

"Nahdliyyin mencermatinya dengan seksama persiapan Muktamar ke-35 NU, sekaligus Konbes dan Munas Alim Ulama. Respons awal justru dipenuhi kecurigaan. Bukan sekadar anomali biasa, melainkan sinyal kuat adanya pergeseran arah sekaligus potensi gejolak," sebutnya.

Tambahnya, kewajiban Rais Aam dan Ketua Umum PBNU sebagai mandataris Muktamar ke-34 adalah menyelenggarakan muktamar berikutnya, yakni Muktamar ke-35, secara bersama-sama. 

Tanggung jawab ini semestinya berjalan linier dan terdelegasi secara proporsional dalam struktur Rais Aam beserta para wakilnya, demikian pula Ketua Umum PBNU dengan jajaran wakilnya. Dalam hal ini, fungsi syuriyah dijalankan melalui peran steering committee (SC), sementara fungsi tanfidziyah diemban oleh organizing committee (OC).

"Namun, mulai tampak kecurigaan, dalam rapat PBNU menetapkan Ketua SC adalah Katib Aam (KH Said Asrori), sedangkan Sekretaris SC adalah Rais PBNU. Pertanyaannya, mengapa bukan Wakil Rais Aam? Demikian pula pada OC, Ketua dijabat oleh Sekretaris Jenderal (Gus Ipul), sementara posisi Sekretaris justru dipegang oleh Wakil Ketua Umum, H. Amin Said Husni," ujarnya.

Komposisi kepanitiaan inti ini dipandang tidak mengikuti standar lazim, dan penempatan figur berdasarkan jabatannya pun terasa janggal serta tidak proporsional.