Menu

Bertanya Lagi ke Pemerintah Tentang Keseriusan Penanganan Karhutla

Azhar 21 Aug 2026, 11:24
Ilustrasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Sumber: detik.com
Ilustrasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Sumber: detik.com

RIAU24.COM - Wakil Ketua Komisi IV DPR RI Alex Indra Lukman berharap pemerintah mengambil langkah extraordinary untuk mengatasi kebakaran hutan dan lahan (Karhutla).

"Terutama untuk wilayah Kalimantan," ujarnya dikutip dari rmol.id, Jumat 21 Agustus 2026.

Tambahnya, dampak Karhutla kian meluas ke berbagai sektor, mulai dari kesehatan, pendidikan, transportasi hingga aktivitas ekonomi. 

Kondisi itu diperparah cuaca kering akibat fenomena El Nino yang diperkirakan mencapai puncaknya pada Agustus-September 2026.

"Pada tahun 1997-1998 lalu, Indonesia juga dilanda fenomena El Nino yang kemudian menyebabkan krisis besar, karena memicu kebakaran di lebih dari 9 juta hektare lahan Kalimantan. Peristiwa itu kemudian jadi bencana lingkungan terbesar di Asia Tenggara pada abad ke-20. Ini tidak boleh berulang sekarang ini," ujarnya.

Belum lagi kondisi Karhutla Kalimantan yang berdampak langsung terhadap kualitas udara. 

Indeks kualitas udara (AQI) di Palangka Raya tercatat mencapai 487 pada 19 Agustus 2026 atau masuk kategori berbahaya.

Kabut asap pekat juga memaksa Dinas Pendidikan menunda jam masuk sekolah SD dan SMP hingga pukul 08.00 WIB, sementara PAUD dialihkan ke pembelajaran jarak jauh. 

Jarak pandang di sejumlah wilayah bahkan turun drastis hingga 1,4 kilometer.

Berdasarkan data BNPB per 19 Agustus 2026, terdapat 1.487 titik panas (hotspot) di wilayah Kalimantan.

“Penyebaran titik Karhutla ini terjadi hampir di setiap provinsi dengan Kalimantan Tengah jadi episentrum kebakaran dengan konsentrasi tertinggi. Penanganan Karhutla Kalimantan ini mesti segera jadi prioritas nasional," ujarnya.