Sambut Dewan Energi Nasional, PTPN IV PalmCo Komitmen Optimalisasi EBT Berkelanjutan
Menurut Unggul, salah satu pekerjaan yang perlu dipersiapkan adalah penyusunan peta jalan atau roadmap ketersediaan bahan baku etanol, antara lain dari tebu, singkong, jagung maupun sorgum.
Ia menyebut peluang pengembangan bahan baku tidak berhenti pada komoditas tersebut. Limbah biomassa seperti tandan kosong kelapa sawit juga dinilai memiliki potensi untuk dikaji lebih jauh sebagai bahan baku energi, kendati membutuhkan penguasaan teknologi yang relatif maju.
Ia mengatakan terdapat tiga jalur yang tengah menjadi perhatian dalam akselerasi bahan bakar domestik, yakni E50, biohidrokarbon atau bensin sawit, serta coal to liquid (CTL). Untuk biohidrokarbon, bahan bakar seperti green gasoline, sustainable aviation fuel (SAF) dan HVO dapat dikembangkan dari CPO maupun produk turunannya melalui proses hydrodeoxygenation dan upgrading.
“Ke depan, tantangannya bagaimana sumber daya yang kita miliki dapat benar-benar dikonversi menjadi sumber energi domestik. Teknologinya memang semakin maju, tetapi peluangnya juga sangat besar,” ujar Unggul.
Pengembangan tersebut, lanjut dia, penting tidak hanya untuk memperbesar porsi energi terbarukan, tetapi juga mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor bahan bakar minyak dan meningkatkan nilai tambah sumber daya alam di dalam negeri. ***