Selalu Jaga Kesehatan! Ini Yang Terjadi pada Tubuh saat Serangan Asma

Rizka 1 Mar 2025, 12:23
Asma
Asma

RIAU24.COM Asma merupakan penyakit pernapasan yang dapat menyebabkan gejala berupa batuk, bersin, sesak napas, dan dada sesak. Penyakit asma dapat menyerang orang dari berbagai usia.

Asma diderita ratusan juta orang di seluruh dunia dan dalam perjalanannya bisa terjadi serangan asma yang dipicu oleh alergen, infeksi saluran pernapasan, udara dingin, olahraga, atau bahan iritan, seperti asap dan polusi.

“Ada dua perubahan fisiologis utama selama serangan asma,” kata Dr. Allen Dozor, profesor pediatri dan kepala divisi pulmonologi, alergi dan pengobatan tidur di New York Medical College. 

Selama serangan asma, bronkus di paru-paru (saluran yang menghubungkan tenggorokan ke paru-paru) mengejang dan menyempit, sehingga aliran napas terganggu. 

Perubahan kedua adalah peradangan pada saluran napas, yaitu reaksi tubuh terhadap alergen atau polutan yang kita hirup. 

“Peradangan cukup rumit, namun kini kami menyadari bahwa beberapa pasien asma mengalami peradangan yang sangat ringan dan ada pula yang mengalami peradangan yang masif,” papar Dozor.

Selain bronkospasme dan peradangan, produksi lendir juga berperan dalam terjadinya asma. Paru-paru menghasilkan lendir kental, yang menyumbat saluran udara yang menyempit dan membuat pernapasan menjadi lebih sulit. 

Penderita asma biasanya mengalami peradangan saluran napas yang berkepanjangan, yang menyebabkan peningkatan produksi lendir secara kronis, serta penebalan lapisan saluran napas seiring berjalannya waktu. 

Ditambah lagi, selama serangan asma, terjadi lonjakan produksi lendir jangka pendek yang dipicu oleh bahan kimia dan molekul inflamasi, seperti histamin dan leukotrien, yang dihasilkan oleh sel kekebalan. 

Ketiga faktor tadi, yakni bronkospasme, peradangan, dan lendir, membuat proses bernapas menjadi sulit, sehingga timbul gejala khas serangan asma seperti batuk mengi, sesak, dan dada terasa sesak. 

Pengobatan utama asma Ketika saluran udara mulai menutup, tubuh kekurangan oksigen. Dalam kasus yang ringan, hal ini dapat menyebabkan sesak napas dan batuk, namun pada serangan yang lebih parah, kadar oksigen dapat turun secara signifikan, menyebabkan pusing, kebingungan, dan bahkan kehilangan kesadaran. 

Jika tidak diobati, serangan asma yang parah bisa berakibat fatal. Pengobatan utama untuk serangan asma adalah inhaler, yang biasanya mengandung albuterol, senyawa yang dengan cepat melemaskan otot-otot saluran napas dan menghentikan pelepasan bahan kimia yang terlibat dalam reaksi hipersensitivitas. 

Untuk serangan yang lebih berat, kortikosteroid, yang menekan peradangan, dapat diberikan secara oral atau melalui infus. 

Dalam situasi darurat, terapi oksigen atau ventilasi mekanis mungkin diperlukan untuk membantu orang bernapas. 

Serangan asma bisa dicegah dengan menghindari pemicu ketiga mekanisme yang mendorong timbulnya gejala. 

“Pencegahan adalah salah satu aspek terpenting dalam perawatan asma,” kata Dr. James Lyons, seorang dokter pengobatan keluarga dengan keahlian di bidang asma. 

“Cara terbaik untuk menghindari serangan parah adalah dengan mengenali dan meminimalkan paparan pemicu, baik alergen, asap, udara dingin, atau bau yang menyengat.” 

Selain itu, rutinlah mengonsumsi obat-obatan untuk mengendalikan asma dan menurunkan risiko bronkospasme, peradangan, dan produksi lendir. Beberapa inhaler juga terdiri dari beberapa obat untuk membantu mencegah serangan.