Tiongkok Kecam Kenaikan Tarif di Sidang Umum PBB, Sebut Kembalinya Mentalitas Perang Dingin
RIAU24.COM - Perdana Menteri Tiongkok, Li Qiang, memperingatkan bahwa dunia sedang kembali ke ‘mentalitas Perang Dingin’ dalam pidatonya di Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa di New York pada hari Jumat (26 September).
Membela multilateralisme dan perdagangan bebas, Li mengkritik tarif yang diberlakukan oleh Amerika Serikat tanpa menyebut namanya.
Ia juga menyebut Tiongkok sebagai pembela tatanan global, dan menambahkan bahwa Beijing berharap dapat bekerja sama dengan seluruh dunia untuk menegakkan cita-cita PBB.
“Dunia telah memasuki periode baru turbulensi dan transformasi,” kata Li.
"Unilateralisme dan mentalitas Perang Dingin kembali muncul. Aturan dan tatanan internasional yang telah dibangun selama 80 tahun terakhir berada di bawah tantangan serius, dan sistem internasional yang dulu efektif terus-menerus diganggu," ujarnya, seraya menambahkan, “umat manusia sekali lagi berada di persimpangan jalan.”
Tanpa menyebut AS atau Presiden Donald Trump, ia mengatakan bahwa tindakan unilateral dan proteksionis seperti tarif dan hambatan perdagangan telah mengakibatkan kelesuan ekonomi global.
Selama setahun terakhir, Trump telah berulang kali menggunakan tarif sebagai alat utama untuk menekan negara-negara, termasuk Tiongkok.
"Salah satu penyebab utama kelesuan ekonomi global saat ini adalah meningkatnya langkah-langkah unilateral dan proteksionis seperti kenaikan tarif dan pembangunan tembok serta penghalang," ujar Li.
"Kita harus berkolaborasi lebih erat untuk mengidentifikasi dan memperluas konvergensi kepentingan, mendorong globalisasi ekonomi yang inklusif dan bermanfaat bagi semua, serta saling membantu untuk mencapai kesuksesan dengan bergerak maju ke arah yang sama," jelasnya.
Tiongkok “berharap untuk bekerja sama dengan seluruh dunia untuk menegakkan cita-cita PBB,” tambah Li.
Li menambahkan bahwa Tiongkok selalu menjadi pembela setia perdamaian dan keamanan dunia dan akan terus melakukannya.
"Tiongkok telah bekerja aktif untuk mendorong perundingan damai mengenai isu-isu panas seperti krisis Ukraina dan konflik Palestina-Israel," ujarnya.
“Tiongkok akan terus memainkan peran konstruktif dalam mendorong penyelesaian politik atas isu-isu panas tersebut," pungkasnya.
(***)