Bukti Demokrasi Indonesia Tengah Menghadapi Ancaman
RIAU24.COM - Wakil Sekretaris Jenderal Partai Demokrat, Didik Mukrianto menyebut aksi penyiraman air keras yang menimpa Wakil Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS), Andrie Yunus, di kawasan Jalan Salemba, Jakarta, pada malam 12 Maret 2026 dapat dijadikan bukti jika demokrasi Indonesia tengah dilanda masalah.
"Peristiwa tersebut bukan sekadar tindak kriminal biasa, melainkan sinyal bahaya bagi ruang demokrasi di Indonesia," ujarnya dikutip dari rmol.id, Minggu 15 Maret 2026.
"Rekaman CCTV menunjukkan serangan yang terencana, mengakibatkan luka bakar serius hingga 24 persen pada tubuh korban. Insiden ini ditengarai bukan sekadar kriminal biasa," tambahnya.
Padahal Indonesia yang selama ini dikenal sebagai demokrasi terbesar di Asia Tenggara malah menghadapi ancaman serius terhadap ruang sipil.
"Indonesia, yang sering dipuji sebagai demokrasi terbesar di Asia Tenggara, kini menghadapi jurang demokrasi. Data Komnas HAM menunjukkan peningkatan ancaman terhadap aktivis sejak 2020, termasuk intimidasi dan kekerasan fisik," ujarnya.
Jika pola kekerasan terhadap aktivis terus berlanjut, dampaknya tidak hanya pada melemahnya demokrasi, tetapi juga dapat memengaruhi kepercayaan publik dan stabilitas negara.
Dia juga mengartikan serangan tersebut dapat dimaknai sebagai upaya sistematis untuk membungkam para aktivis dan mempersempit ruang sipil di Indonesia.
Ia menegaskan bahwa kritik merupakan bagian penting dalam sistem demokrasi karena berfungsi sebagai mekanisme pengawasan terhadap kekuasaan.