Hasil Riset Ungkap Hal Inilah yang Picu 2 Juta Kasus Bayi Lahir Prematur

Devi 8 Apr 2026, 08:14
Hasil Riset Ungkap Hal Inilah yang Picu 2 Juta Kasus Bayi Lahir Prematur
Hasil Riset Ungkap Hal Inilah yang Picu 2 Juta Kasus Bayi Lahir Prematur

RIAU24.COM - Dua bahan kimia yang umum digunakan untuk membuat plastik lebih lentur dikaitkan dengan hampir 2 juta kasus kelahiran prematur dan sekitar 74.000 kematian bayi baru lahir di seluruh dunia pada 2018. Temuan ini berasal dari studi terbaru yang dipublikasikan dalam jurnal ilmiah.

Bahan kimia tersebut adalah Di-2-ethylhexylphthalate (DEHP) dan diisononyl phthalate (DiNP), yang termasuk dalam kelompok senyawa bernama phthalates. Zat ini dikenal luas sebagai 'bahan kimia yang ada di mana-mana' karena penggunaannya sangat masif dalam berbagai produk sehari-hari.

Phthalates kerap ditemukan dalam mainan anak, wadah makanan, lantai vinyl, tirai kamar mandi, hingga produk perawatan tubuh seperti parfum, sampo, dan losion. Selain itu, zat ini juga digunakan dalam plastik pembungkus makanan.

Menurut para peneliti, phthalates dapat mengganggu sistem endokrin atau mekanisme produksi hormon dalam tubuh. Gangguan hormon, meski dalam kadar kecil, dapat berdampak signifikan terhadap perkembangan janin.

"Ini adalah kelas bahan kimia yang berbahaya," kata Dr Leonardo Trasande, penulis utama studi, dikutip dari CNN.

Ia menekankan pentingnya memastikan bayi tidak hanya lahir, tetapi juga lahir dalam kondisi sehat.

Bayi dikategorikan prematur jika lahir sebelum usia kehamilan 37 minggu. Kondisi ini dapat meningkatkan risiko berbagai masalah kesehatan, seperti gangguan pernapasan, keterlambatan perkembangan, hingga gangguan penglihatan dan pendengaran.

Para ilmuwan menduga phthalates dapat memicu kelahiran prematur melalui beberapa mekanisme. Salah satunya adalah gangguan pada fungsi plasenta, organ yang berperan penting dalam menyalurkan oksigen dan nutrisi dari ibu ke janin. Selain itu, zat ini juga dapat memicu peradangan yang berpotensi menyebabkan kontraksi dini.

Studi tersebut menganalisis data dari sekitar 200 negara dan wilayah. Hasilnya menunjukkan bahwa wilayah Afrika, Timur Tengah, dan Asia Selatan menanggung beban terbesar terkait dampak kesehatan akibat paparan phthalates.

Di sisi lain, pihak industri memiliki pandangan berbeda. American Chemistry Council menyatakan evaluasi yang dilakukan oleh otoritas lingkungan Amerika Serikat menemukan penggunaan DiNP tidak menimbulkan risiko yang tidak wajar bagi kesehatan manusia maupun lingkungan.

Meski demikian, sejumlah peneliti menilai perlunya langkah lebih tegas dalam mengatur penggunaan bahan kimia dalam plastik. Mereka juga mendorong adanya perjanjian global untuk membatasi zat berbahaya dalam produk plastik.

Sebagai langkah pencegahan, masyarakat disarankan untuk mengurangi penggunaan plastik, terutama untuk makanan dan minuman panas, serta memilih produk dengan label bebas phthalates.

Temuan ini menjadi pengingat bahwa paparan bahan kimia dalam kehidupan sehari-hari dapat berdampak besar terhadap kesehatan, bahkan sejak dalam kandungan. ***