Bisakah AI Gantikan Peran Guru Agama
RIAU24.COM - Wakil Ketua Umum KH M. Cholil Nafis menyebut perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) tidak dapat menggantikan peran ulama dalam proses belajar agama.
Hal ini karena dalam proses pembelajaran, AI maupun media sosial tidak bisa menjadi patokan dan tidak dianggap benar, dikutip dari rmol.id, Jumat 24 Juli 2026.
"Kita ingin memastikan pada masyarakat bahwa sumber informasi dari AI, dari media itu tidak bisa menjadi guru kita yang bisa benar," ujarnya.
Walau AI dapat dimanfaatkan sebagai sarana mencari informasi dan inspirasi, pemahaman agama tetap harus diperoleh melalui guru yang memiliki sanad keilmuan yang jelas.
"Sebagai inspirasi atau menggali informasi benar-benar saja, tapi belajar agama itu butuh transmisi keilmuan, disebut dengan sanad," sebutnya.
"Ada yang menjamin bahwa itu benar, ada yang menjamin bahwa itu adalah orisinal dan valid," tambahnya.
Atas dasar itu, MUI menegaskan masyarakat dapat berguru sesuai dengan tradisi yang sudah ada.