Zainal Arifin Mochtar: Jangan Percaya Orang, Jokowi 2014 dengan 2023 Berubah, Begitu Juag Rocky Gerung
RIAU24.COM - Guru Besar Ilmu Hukum Universitas Gadjah Mada (UGM) Prof Zainal Arifin Mochtar mengingatkan publik agar tidak mudah menaruh kepercayaan kepada seseorang secara mutlak.
Menurut Zainal, sikap dan pandangan seseorang dapat berubah seiring berjalannya waktu. Karena itu, menurut dia, masyarakat perlu membangun sikap kritis dan tidak menggantungkan harapan pada individu tertentu.
“Pesan saya: jangan percaya kepada orang. Orang bisa berubah,” ujar Zainal Arifin Mochtar dalam sebuah video yang diunggah dan dikutip pada Selasa (29/9/2026).
Zainal kemudian mencontohkan sejumlah tokoh publik yang menurutnya mengalami perubahan dalam perjalanan waktu.
Ia menyebut Presiden Joko Widodo. Menurut Zainal, sosok Jokowi pada 2014 tidak dapat disamakan dengan Jokowi pada 2023.
Hal serupa, lanjut dia, juga terjadi pada Yusril Ihza Mahendra dan Rocky Gerung.
“Jokowi tahun 2014 berbeda dengan Jokowi tahun 2023. Yusril Ihza Mahendra tahun 2010 berbeda dengan Yusril tahun 2026. Rocky Gerung pun mengalami perubahan serupa,” kata Zainal.
Sebagai akademisi, Zainal menjelaskan bahwa pencantuman tahun dalam catatan kaki atau footnote pada karya ilmiah memiliki alasan. Salah satunya karena pemikiran dan posisi seseorang dapat berubah dari waktu ke waktu.
“Kita ini akademis. Kenapa ketika menulis footnote ada tahun? Karena orang bisa berubah,” ujarnya.
Atas dasar itu, Zainal menilai komitmen dalam kehidupan sosial dan politik tidak semestinya hanya bergantung pada individu.
Ia mendorong agar komitmen sosial dan moral dibangun secara kolektif sehingga tidak bergantung pada siapa orang yang sedang memegang posisi atau memiliki pengaruh.
Zainal bahkan meminta publik tidak menempatkan dirinya sebagai sosok yang tidak mungkin berubah.
“Saya pun jangan Anda percaya. Siapa yang bisa menjamin saya tidak jadi pengkhianat berapa tahun lagi?” tegasnya.
Lebih lanjut, Zainal mengingatkan bahwa demokrasi tidak menjamin munculnya individu yang selalu berada pada posisi ideal.
“Demokrasi itu tidak menciptakan malaikat. Demokrasi itu menawarkan lesser evil. Mari kita mengagregasi semangat kritis,” kata Zainal.
(***)