Gen Alpha Kritisi Pemerintah: Gimana Jadi Generasi Emas Kalau yang Dicetak Generasi Besi Karat!

Zuratul • 7 Oct 2026, 11:41
Khabilah Syahid Kava atau Kafa dan Sayid Mizauk alias Aang. Foto: Youtube/Reset Indonesia.
Khabilah Syahid Kava atau Kafa dan Sayid Mizauk alias Aang. Foto: Youtube/Reset Indonesia.

RIAU24.COM - Wacana Indonesia Emas 2045 ternyata ikut dipertanyakan generasi Alpha. Dua anak berusia 10 tahun, Khabilah Syahid Kava atau Kafa dan Sayid Mizauk alias Aang, mengaku khawatir Indonesia Emas hanya berhenti sebagai slogan jika persoalan pendidikan, lingkungan, dan pola pikir tidak dibenahi sejak sekarang.

Pandangan tersebut disampaikan Kafa dan Aang saat menjadi narasumber dalam Podcast Reset Indonesia, dalam episode bertajuk “Indonesia Emas 2045 di Mata Gen Alpha”.

Aang mempertanyakan bagaimana Indonesia bisa melahirkan generasi emas apabila proses yang membentuk mereka tidak memberi ruang untuk berpikir, berkembang, dan menyampaikan pendapat.

“Bagaimana ingin menjadi generasi emas kalau yang mencetaknya generasi besi karat?” kata Aang dalam podcast tersebut.

Menurut Aang, pendidikan tidak semestinya hanya diarahkan untuk mendapatkan ijazah dan pekerjaan. Anak-anak juga perlu diberi kesempatan mengenali minat dan kemampuan masing-masing.

Ia menilai setiap anak tidak harus dipaksa mengikuti pola pendidikan yang sama.

Pandangan itu juga disampaikan Kafa. Ia mengatakan anak seharusnya mendapat pendidikan yang lebih merdeka dan sesuai dengan ketertarikannya.

“Pendidikan mereka tuh seharusnya merdeka,” kata Kafa.

Kafa sendiri sebelumnya sempat mengikuti pendidikan formal. Kini ia menjalani pendidikan dari rumah dengan pola belajar yang lebih fleksibel.

Menurut Kafa, belajar tidak selalu harus dilakukan di ruang kelas. Membaca, belajar bahasa, menonton film, hingga berjalan di lingkungan sekitar dapat menjadi bagian dari proses pembelajaran.

Anak-anak juga bicara soal politik

Aang juga menilai politik bukan persoalan yang hanya perlu dipahami orang dewasa.

“Politik itu cara kita hidup,” ujarnya.

Ia kemudian menceritakan pengalamannya ketika datang ke aksi mahasiswa di Ciamis. Saat itu, Aang mengaku awalnya hanya diperbolehkan ayahnya untuk melihat aksi dan tidak ikut berdemonstrasi.

Namun, di tengah aksi, ia kemudian diajak naik ke atas kendaraan yang digunakan peserta aksi dan menyampaikan orasi secara spontan.

Aang mengaku menyampaikan keresahan mengenai harga bahan bakar minyak dan sejumlah persoalan lainnya.

Dari pengalaman tersebut, ia menilai masyarakat juga memiliki tanggung jawab untuk peduli terhadap persoalan yang terjadi di sekitarnya.

Ia bahkan menyoroti sikap apatis sebagian masyarakat terhadap persoalan sosial dan politik.

Menurut Aang, kesadaran politik perlu dibangun sejak anak-anak agar mereka memahami bahwa keputusan politik dapat berpengaruh terhadap kehidupan sehari-hari.

Keresahan terhadap lingkungan

Sementara itu, Kafa lebih banyak menyoroti persoalan lingkungan.

Ia mengaku khawatir melihat kebakaran hutan dan pembukaan kawasan hutan untuk berbagai kepentingan.

Menurut Kafa, kerusakan lingkungan di darat tidak bisa dipisahkan dari kondisi laut. Apa yang terjadi di darat, menurut dia, pada akhirnya dapat berdampak ke laut.

Karena itu, ia menilai pemanfaatan sumber daya alam perlu dilakukan dengan mempertimbangkan keberlanjutan lingkungan.

Kafa diketahui memiliki ketertarikan terhadap laut dan alam. Dalam podcast tersebut, ia menceritakan kegemarannya berenang, freediving, serta mengeksplorasi alam.

Ia juga menyebut keinginannya untuk menjadi ahli biologi kelautan.

Literasi dibangun dari rasa ingin tahu

Kafa dan Aang juga menceritakan pengalaman mereka membangun kemampuan literasi.

Kafa mengaku awalnya tidak terlalu menyukai buku. Ia kemudian mulai membaca dari bacaan yang sesuai dengan minatnya hingga mengenal buku yang membahas persoalan lingkungan.

Sementara Aang mengatakan dirinya pernah mengalami kesulitan membaca. Ia kemudian belajar secara bertahap, mulai dari bacaan yang lebih ringan hingga buku dengan pembahasan yang lebih kompleks.

Aang juga menceritakan kegiatan membaca bersama yang disebut “tadarus buku”. Dalam kegiatan itu, peserta membaca bagian buku secara bergantian kemudian membahas isinya.

Menurut mereka, orangtua memiliki peran penting dalam mendampingi proses belajar dan rasa ingin tahu anak.

Kafa mengatakan orangtuanya sering mendorong dirinya mencari jawaban sendiri atas berbagai pertanyaan, lalu mendampingi proses pencarian tersebut.

Khawatir Indonesia Emas hanya menjadi slogan

Menjelang akhir podcast, Aang kembali mengungkapkan kekhawatirannya terhadap gagasan Indonesia Emas 2045.

Ia khawatir istilah tersebut hanya menjadi kata-kata tanpa perubahan nyata dalam pendidikan maupun kehidupan masyarakat.

Aang menilai masa depan Indonesia seharusnya tidak hanya dibicarakan dari apa yang ingin dicapai pada 2045, tetapi juga dari persoalan yang sedang dihadapi saat ini.

“Indonesia sudah merdeka tapi belum merdeka secara mindset,” kata Aang.

Sementara itu, Kafa membayangkan Indonesia pada 2045 sebagai negara maju yang tetap menjaga lingkungan.

Ia berharap laut tetap terlindungi, sungai bersih, hutan terjaga, satwa tetap memiliki habitat, dan pembangunan tidak mengabaikan kondisi serta budaya di setiap daerah.

Bagi Kafa dan Aang, Indonesia Emas 2045 tidak ditentukan hanya oleh apa yang terjadi pada 2045. Masa depan tersebut, menurut mereka, dibentuk dari cara anak-anak dididik dan bagaimana masyarakat memperlakukan lingkungan sejak sekarang.

(zar)