Menu

Enam Tahun Lalu Buku lni Sudah Prediksi Anak Krakatau Bisa Picu Tsunami Selat Sunda

28 Dec 2018, 21:45
Ilustrasi
Ilustrasi

RIAU24.COM - Hipotesis bahaya flank collapse Anak Krakatau yang mampu menyebabkan tsunami ternyata telah diprediksi oleh sebuah buku ilmiah yang dipublikasikan pada 2012 silam, kurang-lebih enam tahun pra tsunami Selat Sunda. 

Melansir laman merdeka.com, 27 Desember 2018, buku itu berjudul "Natural Hazards in the Asia-Pacific Region: Recent Advances and Emerging Concepts" yang ditulis oleh JP Terry dan J Goff, dipublikasikan oleh The Geological Society of London. 

Berikut petikan abstrak bab buku tersebut yang ditulis oleh T. Giachetti, R. Paris, K. Kelfoun, dan B. Ontowirjo, para peneliti telah mewanti-wanti mengenai bahaya longsoran Anak Krakatau yang berpotensi memicu tsunami.

Anak Krakatau, yang sebagian besar dibangun di dinding timur laut curam dari kaldera letusan 1883 Krakatau, berstatus aktif di sisi barat daya-nya (pasca-1883) yang membuat gunung itu tidak stabil. 

Keruntuhan lereng (flank collapse) hipotetis 0,280 km3 yang diarahkan ke barat daya akan memicu gelombang awal setinggi 43 m yang akan mencapai pulau Sertung, Panjang dan Rakata dalam waktu kurang dari 1 menit, dengan amplitudo dari 15 hingga 30 m. 

Ombak ini akan berpotensi berbahaya bagi banyak kapal wisata kecil yang bersirkulasi di dan disekitar, Kepulauan Krakatau. 

Gelombang kemudian akan merambat secara radial dari daerah tumbukan dan melintasi Selat Sunda, dengan kecepatan rata-rata 80-110 km j-1. 

Tsunami akan mencapai kota-kota yang terletak di pantai barat Jawa (misalnya: Merak, Anyer dan Carita). 35-45 menit setelah mulainya keruntuhan, dengan amplitudo maksimum dari 1,5 m (Merak dan Panimbang) hingga 3,4 m (Labuhan). 

Karena banyak infrastruktur industri dan wisata terletak dekat dengan laut dan pada ketinggian kurang dari 10 m, gelombang ini menghadirkan risiko yang tidak dapat diabaikan. 

Karena banyak refleksi di dalam Kepulauan Krakatau, ombak bahkan akan mempengaruhi Bandar Lampung (Sumatra, sekitar 900.000 jiwa) setelah lebih dari 1 jam, dengan amplitudo maksimum 0,3 m. 

Gelombang yang dihasilkan akan jauh lebih kecil daripada yang terjadi selama letusan Krakatau 1883 (sekitar 15 m). 

"Indonesia harus membangun sistem peringatan dini untuk tsunami yang ditimbulkan oleh tanah longsor bawah Iaut dan letusan gunung berapi. Tanah longsor memicu tsunami Maumere 1992 dan tsunami Palu 2018."