Menu

Anggota Parlemen Irak Sebut Kedubes Amerika d Baghdad Jadi Sarang Mossad dan ISIS

Satria Utama 15 Jul 2019, 10:31
Kedubes Amerika d Baghdad
Kedubes Amerika d Baghdad

RIAU24.COM -  BAGHDAD - Tuduhan serius disampaikan anggota parlemen senior Parlemen Irak Hassan Salem terhadap Kedutaan Amerika Serikat (AS) di Baghdad. Salim mengeluarkan peringatan tentang kegiatan mencurigakan agen-agen Mossad (intelijen Israel) dan ISIS di kedutaan tersebut.

"Kedutaan Besar AS di Baghdad telah berubah menjadi pusat bagi Mossad Israel dan teroris ISIS. Kedutaan itu mencampuri urusan dalam negeri negara (Irak) dengan memata-matai, menyebarkan desas-desus dan plot-plot hatching," katanya.

Salem mengklaim bahwa kedutaan tersebut harus ditutup karena kegiatan ilegalnya. "Pelanggaran Kedutaan AS terhadap undang-undang dan melupakan tanggung jawabnya berdasarkan hukum internasional berarti bahwa pusat itu tidak bisa disebut kedutaan dan oleh karena itu, penutupannya secara hukum diperlukan," kata Salem, dikutip Sindonews dari Mehr News, Senin (15/7/2019).

Anggota Parlemen tersebut sebelumnya menuduh AS memberikan perlindungan kepada teroris. Pada bulan Februari, dia mengatakan bahwa Amerika memiliki pemimpin ISIS Abu Bakar al-Baghdadi dalam perawatan mereka di gurun barat provinsi Anbar.

"Al-Baghdadi menggunakan gurun Anbar sebagai tempat yang aman, sementara pasukan AS memberinya semua sarana dukungan dari stasiun mereka di pangkalan militer Ain Al-Assad di provinsi Anbar," ujarnya.

Dia lebih lanjut menyatakan bahwa dukungan untuk ISIS berasal dari ketakutan Washington terhadap rancangan undang-undang tentang pengusiran pasukan asing dari Irak, yang akan disahkan oleh para anggota parlemen baru Irak.

Ini bukan klaim pertama yang berkaitan dengan afiliasi AS-Israel yang keluar dari Baghdad. Abbas al-Ardawi, mantan anggota Parlemen Irak di Komisi Urusan Politik, mengatakan bahwa kedutaan AS melakukan perilaku yang mencurigakan, yakni menjadi ruang operasi untuk merencanakan tindakan dengan Israel di Irak.

Dia lebih lanjut mengklaim bahwa pemerintah AS memberikan tekanan pada Baghdad dan memperpanjang penempatan pasukannya di Irak.***

 

R24/bara