Menu

Ramah Lingkungan, Dinas Perikanan Bengkalis Ajak Masyarakat Budi Daya Ikan Gunakan Bioflok

Dahari 22 Nov 2019, 16:12
Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Bengkalis mengajak masyarakat untuk mengembangkan budi daya ikan dengan cara mudah dan tidak perlu lokasi besar dan biaya jauh lebih efisien (foto/Hari)
Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Bengkalis mengajak masyarakat untuk mengembangkan budi daya ikan dengan cara mudah dan tidak perlu lokasi besar dan biaya jauh lebih efisien (foto/Hari)

RIAU24.COM - BENGKALIS- Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Bengkalis mengajak masyarakat untuk mengembangkan budi daya ikan dengan cara mudah dan tidak perlu lokasi besar dan biaya jauh lebih efisien.

Salah satu cara yang sedang dikembangkan Dinas Perikanan adalah budi daya ikan dengan menggunakan sistem Bioflok.

zxc1

Hal tersebut disampaikan Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kabupaten Bengkalis melalui Plt Kepala Seksi (Kasi) Pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) Bendri. Diutarakan Bendri bahwa saat ini pengembangan budi daya ikan dengan menggunakan sistem ini sudah dilakukan di beberapa kecamatan, ternyata hasilnya sangat memuaskan.

zxc2


"Bioflok ini bisa diartikan sebagai gumpalan (flok) dari berbagai campuran heterogen mikroba (plankton, protozoa, fungi), partikel, polimen organik, koloid dan kaiton yang saling berinteraksi dengan sangat baik di dalam air. Sehingga dengan sistem Bioflok ini tidak ada bahan yang terbuang, seperti sisa makanan dan kotoran ikan bisa di olah kembali jadi makanannya," ujar Bendri, saat menampilkan kreatifitas di Kantor Balitbang Bengkalis, Kamis 21 November 2019 kemarin.

Bendri juga menyebutkan bahwa sistem ini bukan hanya untuk ikan lele, tetapi ikan nila dan ikan gurami yang juga bisa hidup dalam Bioflok tersebut.

"Ini bukan hanya bisa untuk ikan lele tapi ikan nila dan gurami juga bisa," ucapnya.

Bendri kembali menyampaikan bahwa untuk menyangkut biaya pembuatan tempatnya tergantung ukuran besar kecilnya terpal yang digunakan. Dan sisetiap diameter biayanya berbeda, misalnya untuk ukuran diameter 1,75 meter dengan biaya dua juta rupiah sudah jadi biofloknya.

"Untuk ukuran diameter 1,75 meter tersebut bisa diisi dengan ikan lele sebanyak 3000 ekor," ungkapnya.

Masih kata Bendri, kelebihan menggunakan sistem bioflok yakni ramah lingkungan, tidak menggunakan lahan yang besar, minimal untuk budidaya buat konsumsi sendiri.

"Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Bengkalis tahun 2019 ini telah melaksanakan pelatihan di beberapa kecamatan, yakni Kecamatan Pinggir, Bandar laksamana dan Kecamatan Mandau dengan hasil yang memuaskan," ucapnya.

"Dari sistem bioflok ini adalah mengubah senyawa organik dan anorganik yang di dalamnya berisi senyawa karbon ( C), Oksigen (O), Hidrogen (H), Nitrogen (N) menjadi massa slugde berbentuk bioflok dengan cara memanfaatkan bakteri pembentuk gumpalan/flok yang mengubah biopolymer sebagai bioflok," pungkasnya. (R24/Hari)