Panglima TNI: Medsos Bisa Jadi Alat Propaganda

Sabtu, 21 November 2020 | 15:13 WIB
Panglima TNI: Medsos Bisa Jadi Alat Propaganda (foto/int) Panglima TNI: Medsos Bisa Jadi Alat Propaganda (foto/int)

RIAU24.COM -  Bagi Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto Media sosial dinilai bisa menjadi alat propaganda sebuah bangsa. Karenanya medsos memiliki peranan penting.

"Mau tidak mau, suka tidak suka, kita harus akui bahwa media sosial telah dapat dimanfaatkan sebagai media propaganda," kata Hadi dalam Webinar bertajuk "Sinergi Anak Bangsa Dalam Menjaga Keutuhan Bangsa dan Negara Dari Aksi Separatisme di Dunia Maya" Sabtu (21/11/2020).

Baca Juga: Anies Baswedan dan Wakilnya Positif Covid-19, Bagaimana Kebijakan Penanganannya di Jakarta?



Hadi menambahkan, jangkauan medsos yang luas bisa digunakan efektif untuk perang informasi dan perang ideologi.

Apalagi adanya fitur di medsos seperti hastag atau tagar dan trending topic mampu membuat informasi lebih cepat diterima masyarakat.

Hadi menyebutkan, yang  mengkhawatirkan jika informasi yang disebar dengan cepat itu merupakan isu sensitif. Menurutnya, hal tersebut bisa menimbulkan provokasi di masyarakat.

Baca Juga: Pemerintah Putuskan Libur Akhir Tahun Dipangkas Tiga Hari, Ini Rinciannya

"Bahasa yang digunakan biasanya bahasa provokatif, semua ditujukan untuk membangkitkan emosi masyarakat," terang dia.

Hadi melanjutkan, isu sensitif yang diangkat dengan bahasa provokatif tersebut mampu membuat masyarakat menjadi terkotak-kotak hingga dibenturkan satu sama lainnya.

Menurutnya, jika hal ini terus terjadi maka masyarakat akan terpolarisasi. Meski demikian, ia mengakui ada elemen masyarakat yang tidak mudah termakan informasi propaganda.


Di sisi lain, ia juga mengatakan, ada banyak masyarakat yang terhasut dan akan mereplikasi pesan, bahkan ikut membuat pesan propaganda semakin besar.

Jika hal ini terus dilakukan, kata dia, mampu menimbulkan politik identitas yang sempat digunakan penjajah kepada bangsa.

"Politik identitas kembali marak digunakan, sejak beberapa tahun belakangan karena dinilai mudah menggerus masyarakat dan mudah meraih dukungan," ungkapnya.

Selain itu, ia juga menilai bahwa aksi propaganda lewat media sosial bahkan lebih efektif daripada perlawanan bersenjata yang dilakukan terhadap pemerintah.

"Contoh berita bohong sudutkan pemerintah, sasaran utamanya adalah masyarakat awam dan generasi muda," pungkas Hadi.

PenulisR24/bis



Loading...
Loading...