Tingkat Kematian Bunuh Diri Perempuan Jepang Meningkat, Karena Virus Corona?

Jumat, 19 Februari 2021 | 09:37 WIB
ilustrasi.google. ilustrasi.google.

RIAU24.COM -  Untuk pertama kalinya dalam sebelas tahun, tingkat kematian karena bunuh diri naik di Jepang

Anehnya, angka menunjukkan bahwa lebih banyak perempuan yang bunuh diri dari pada pria. Bahkan, persentase perempuan bunuh diri naik 15%.

Dalam satu bulan, tepatnya Oktober, angka bunuh diri perempuan Jepang naik lebih dari 70% dibandingkan bulan yang sama di tahun sebelumnya.

Baca Juga: Menyembunyikan Vitiligo Dengan Riasan Selama 10 Tahun, Model 37 Tahun Ini Dengan Bangga Menunjukkan Wajahnya Untuk Menginspirasi Orang Lain

Dilansir dari bbc.com, seorang Professor ahli bidang bunuh diri, Michiko Ueda mengungkapkan bahwa sepanjang karirnya, ini adalah pertama kali persentase bunuh diri sangat tinggi.

“Pola peningkatan bunuh diri wanita ini sangat tidak biasa, saya belum pernah melihat peningkatan sebanyak ini sepanjang karir saya sebagai peneliti di topik ini. Mengenai virus Corona, industri yang paling terasa dampaknya adalah yang dikelola oleh wanita, seperti pariwisata dan industri makanan,” jelasnya kepada bbc.com (18/2)

Ada peningkatan jumlah perempuan lajang yang tinggal sendiri di Jepang, kebanyakan mereka memilih untuk tinggal sendiri daripada menikah. Professor Ueda juga menyebutkan bahwa perempuan muda lebih banyak miliki pekerjaan tidak tetap.

Baca Juga: Jadi Inspirasi, 4 Insinyur Ini Gunakan Energi Surya Untuk Menghadirkan Listrik ke Desa Pengungsi di India

“Banyak perempuan yang tidak menikah lagi. mereka harus menghidupi kehidupan mereka sendiri dan mereka tidak punya pekerjaan tetap. Jadi, saat sesuatu seperti ini terjadi (pandemi) mereka sangat terpukul, sangat keras. Jumlah kehilangan pekerjaan mereka sangat besar selama delapan bulan terakhir,” sambungnya.

Satu bulan sangat menonjol, pada Oktober tahun lalu, 879 wanita bunuh diri, itu lebih tinggi 70% dari bulan yang sama di 2019.

PenulisR24/ame



Loading...
Loading...