Nestle Akui Lebih Dari 60 Persen Produknya Tidak Memenuhi Standar Kesehatan

Minggu, 06 Juni 2021 | 17:04 WIB
google google

RIAU24.COM Nestle, raksasa konsumer asal Swiss, mengakui lebih dari 60 persen produk makanan dan minumannya tidak memenuhi standar kesehatan yang berlaku.

Pengakuan tersebut tertuang dalam dokumen internal perusahaan yang sempat bocor.

Dikutip dari Financial Times, Minggu (6/6), Nestle mengatakan, beberapa produknya tidak akan pernah sehat, meskipun sudah dilakukan berbagai renovasi. Dalam dokumen tersebut, dinyatakan hanya 37 persen produk Nestle yang mendapat peringkat di atas 3,5.

Baca Juga: Bukti Israel 'Kepanasan' Setelah Indonesia Kecam Aksi Brutal Pada Warga Sipil Gaza Palestina

Hal ini berdasarkan sistem peringkat kesehatan Australia. Namun hal itu tak termasuk untuk produk susu formula bayi, makanan hewan peliharaan dan nutrisi medis khusus.

Hasil perhitungan menunjukkan 70 persen produk Nestle gagal memenuhi ambang batas kesehatan. Terdiri dari 96 persen produk minuman dan 99 persen produk manisan serta es krim. Sedangkan 82 persen produk air dan 60 persen produk susu telah memenuhi nilai ambang batas.

Nestle berjanji akan membuat perbaikan guna meningkatkan kualitas produknya. Namun perusahaan multinational tersebut mengaku masih terkendala dengam portfolio yang dinilai masih buruk. Padahal peraturan dan tuntutan konsumen saai ini terus meningkat.

Pihak eksekutif Nestle dikatakan sedang mempertimbangkan komitmen baru terkait nutrisi dan rencana pada tahun ini. Terlebih temuan tersebut muncul justru disaat perusahaan pesaing tengah memerangi obesitas dan mempromosikan makanan yang lebih sehat.

Baca Juga: Bayi Wanita Dibuang Dalam Kotak Bergambar Dewa Hindu, Bukti India Masih Terburuk Untuk Urusan Gender

Kepala Ekslusif Nestle Mark Schneider mengaku konsumen ingin diet yang lebh sehat namun dia menolak makanan olahan yang dibuat perusahaannya cenderung tak sehat.

Diketahui, dari data-data yang ada menunjukkan bahwa sekitar setengah dari total pendapatan Nestle mencapai Rp1.260 triliun.

PenulisR24/riz


Loading...
Loading...