Menu

Kisah Heroik Pramugari Cantik yang Selamatkan Ratusan Penumpang Dari Teroris, Endingnya Bikin Sedih

Devi 25 Jun 2021, 15:28
Foto : Indiatimes
Foto : Indiatimes

RIAU24.COM -   Pada bulan September 1986 tahun silam, seorang pramugari asal India bernama Neerja Bhanot sukses menyelamatkan penumpang dari aksi teroris di pesawat. Dua hari sebelum ulang tahunnya yang ke-23, Neerja Bhanot mengalami peristiwa luar biasa. 

Kala itu, ia menjalankan tugas pertama sebagai pramugari senior dalam pesawat Pan Am Penerbangan 73 dari India menuju Amerika Serikat. Namun sayang, saat mendarat di Bandara Karachi, Pakistan, burung besi yang mengangkut 361 penumpang dan 19 awak tersebut menjadi target pembajakan.

Kini, 35 tahun setelahnya, nama Neerja Bhanot pun dikenal sebagai pahlawan.

Neerja Bhanot, yang terbunuh pada usia 22 tahun, merupakan penerima penghargaan Ashoka Chakra Award. Penghargaan ini adalah salah satu penghargaan militer tertinggi di India untuk “aksi keberanian yang unggul atau pengorbanan diri di hadapan musuh”.

Neerja awalnya adalah seorang model sebelum berganti profesi menjadi pramugari. Saat itu, Neerja baru saja cerai dan melamar menjadi pramugari Pan American Airways atau Pan Am. Karir Neerja pun bisa dibilang sukses. Setelah menempuh latihan di Miami sebagai pramugari, dirinya diangkat menjadi kepala pramugari (chief flight attendant).

Sayangnya, nasib Neerja berakhir nahas pada 5 September 1986. Dua hari sebelum ulang tahunnya, Neerja Bhanot menjadi pramugari dalam penerbangan Pan Am dari Mumbai ke Pakistan. Saat itu, para teroris Palestina yang berasal dari kelompok Abu Nidal Organization melakukan pembajakan pesawat yang baru tiba di Jinnah International Airport, Pakistan. Pesawat dilaporkan membawa 365 orang dan 16 awak kabin.

Kelompok teroris tersebut bermaksud merebut pesawat demi membebaskan tahanan Palestina di Cyprus dan Israel. Mereka pun menyamar menjadi petugas keamanan bandara, dan membajak pesawat 40 menit setelah mendarat.

Insting Neerja memperingatkan ada yang tak beres. Sesaat setelah pembajak dari kelompok Abu Nidal memasuki kabin, perempuan tersebut memperingatkan awak pesawat yang ada di kokpit. Lalu tiga orang di kokpit, yakni pilot, kopilot, dan teknisi pesawat segera kabur. Mirisnya, pilot yang seharusnya bertanggung jawab atas kondisi pesawat malah sudah kabur lewat jendela emergensi di kokpit, meninggalkan seluruh penumpang.

Kapal terbang itu tak bisa mengudara ke tempat yang diinginkan para teroris: Siprus. Burung besi tersebut tetap berada di atas aspal landasan. Hal ini membuat para teroris geram. Bahkan, seorang penumpang India-Amerika bernama Rajesh Kumar dijadikan sandera. Tujuannya adalah agar pihak maskapai mau memberikan mereka pilot baru untuk menerbangkan pesawat.

Rajesh Kumar bahkan berakhir ditembak oleh para teroris. Para teroris kemudian memerintahkan Neerja untuk mengumpulkan paspor para penumpang agar para pembajak bisa mengidentifikasi warga Amerika Serikat. 

Takut jika para teroris ingin mencari penumpang berkebangsaan Amerika, Neerja dan para pramugari lainnya pun mulai mengumpulkan paspor namun menyembunyikan paspor penumpang yang berasal dari Amerika.

Tidak hanya itu, Neerja Bhanot pun mencoba melakukan negosiasi dengan pimpinan teroris dan perwakilan maskapai Pan Am. Diam-diam, Neerja juga menyobek halaman dari buku panduan untuk membuka pintu emergensi pesawat dan memberikannya ke penumpang lain. Pada akhirnya, para teroris pun mencoba untuk meledakkan pesawat dan membunuh para penumpang serta diri mereka sendiri. Namun, ledakan itu gagal dan para teroris berganti menembaki penumpang.

Di saat itulah, Neerja membuka pintu emergensi dan membantu penumpang keluar. Sementara, penumpang yang mendapat kertas panduan dari Neerja juga membuka pintu yang lain. Neerja Bhanot sendiri sebenarnya bisa ikut kabur. Namun, dirinya memilih untuk bertahan di pesawat dan melindungi penumpang meski dirinya harus berkorban nyawa.

“Neerja ditangkap oleh pimpinan teroris dan ditembak langsung. Di jasadnya, aku melihat peluru mengenai perut, bahu dekat leher, dan lengannya,” kisah ayah Neerja. “Dia bisa saja kabur, tapi dia adalah ‘kapten’, yang percaya jika dia harus menjadi orang terakhir yang keluar, baik hidup atau mati.”

Neerja Bhanot sebenarnya masih hidup saat dia akhirnya turun dari pesawat. Namun, setelah dibawa ke ambulans, Neerja dinyatakan tewas sebelum mendapat pertolongan medis. Total, 22 orang pun tewas dalam insiden ini. Sementara, sisanya berhasil diselamatkan berkat aksi heroik Neerja Bhanot dalam melawan para teroris. Selain dikenang menjadi pahlawan, Neerja Bhanot juga diabadikan dalam sebuah film berjudul “Neerja” yang mengisahkan keberaniannya sebagai pramugari dalam melaksanakan tugas di tengah ancaman terorisme.

Dilansir, News.com.au, Neerja Bhanot tewas diberondong peluru saat menggunakan tubuhnya sebagai perisai hidup untuk melindungi dua anak-anak. Salah satu dari anak tersebut, yang kala itu berusia 7 tahun, menjadi kapten penerbang di sebuah maskapai besar. Ia tak akan pernah melupakan sosok perempuan cantik, murah senyum, berseragam pramugari, yang bertindak lebih dari sebagai awak kabin. Baginya Neerja Bhanot adalah pahlawan yang menyelamatkan nyawanya.

"Yang penting bukan lamanya, namun hidup haruslah berarti," itu yang mungkin bisa disimpulkan dari jalan hidup Neerja Bhanot, yang pergi untuk selamanya pada usia nyaris 23 tahun. Kini sebuah film didedikasikan untuk mengenang kepahlawanannya. Judulnya, Neerja.