Di Semarang Terdapat Pondok Pesantren Khusus Menaungi Mantan Preman hingga Pembunuh yang Ingin Bertobat

Jumat, 26 November 2021 | 08:48 WIB
google google

RIAU24.COM - Di Semarang, Jawa Tengah ada sebuah pesantren yang diperuntukkan bagi para preman dan residivis yang ingin bertobat memperbaiki diri. Dengan dibimbing seorang ustaz para preman ini diajak kembali ke jalan yang benar.

Para santri disini adalah mantan preman atau bandit jalanan. Ada juga residivis dengan berbagai kasus. Dari perampokan, narkoba, hingga pembunuhan. Namun, itu masa lalu yang sudah mereka kubur dalam-dalam. Kini mereka adalah santri Pondok Pesantren Tombo Ati Istigfar di Jalan Perbalan, Semarang. Kadang disebut juga pesantrennya para preman.

Muhamad Kuswanto atau Gus Tanto. Orang yang membimbing mantan preman ini untuk bertobat dan mengenal agama Islam. Dari 300-an santri Gus Tanto, ada yang datang dengan sendirinya, ada pula tak sedikit yang dijemput Gus Tanto ke terminal, stasiun, hingga pasar.

Baca Juga: Pria Denmark yang Merusak Kuil di Bali Akan Dideportasi Setelah Menjalani Hukuman Penjara

“Dilihat dari namanya tempat pondok saya ini; Perbalan yang beri nama orang Belanda, dari kata; Perbal. Artinya kalau diistilahkan bahasa hukum sekarang adalah di BAP (menjalani proses pembuatan Berita Acara Perkara_BAP) yang dilakukan Belanda karena kejahatan. Sebab, para warga di Perbalan ini dulu rata-rata sering di Perbal atau di BAP usai melakukan tindak kejahatan alias banyak yang jadi kecu (maling),” tegas Gus Tanto dilansir musmus.com.

Sebelum mendirikan ponpes khusus preman, Gus Tanto mengajak teman-teman semasa kecilnya berkumpul dan membaca Surat Yasin dan tahlil bersama. "Ini dilakukan dari rumah ke rumah," ujarnya.

Ia menceritakan sempat dicibir dan dihina mau menerima mantan preman. Namun, karena semata niat baik, dia tak menghiraukan cibiran itu. Alhasil, kini ponpes yang berdiri sejak 2007 ini sudah melahirkan santri terbaik yang dulunya adalah preman.

Rusmanto, 47 tahun, mantan pembunuh di Semarang ini memiliki alasan khusus masuk ke Ponpes Tombo Ati. "Saya masuk ke ponpes karena petunjuk Allah. Dulu saya seorang pembunuh, pemabuk, suka main perempuan, pokoknya suka yang berbau kriminalitas," ujarnya.

Pada suatu malam, dia bercerita, saat tidur di terminal, ia mengalami kejang dan mimpi buruk. Dari pengalaman itu Rusmanto kemudian sadar untuk memilih jalan yang benar.

Baca Juga: Di Indonesia, Wayang Kulit LGBTQ Memiliki Pesan Toleransi

Hingga kini Ponpes Tombo Ati selalu ramai dikunjungi masyarakat luar sekadar untuk berbagi dan mengaji bersama.

Hal paling unik dari pesantren ini adalah nama mushollanya: "Wartel Akhirat 0.42443". Musholla diibaratkan sebagai wartel (tempat berkomunikasi dengan Tuhan). 0 artinya mengosongkan diri, dan 42443 merupakan jumlah rakaat dalam sholat.

PenulisR24/riz


Loading...
Loading...