Menu

Fakta Menarik Peluncuran Satelit SATRIA-1 yang Nyaris Tanpa Insiden

Zuratul 20 Jun 2023, 10:49
Fakta Menarik Peluncuran Satelit SATRIA-1 yang Nyaris Tanpa Insiden. (Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi/Foto)
Fakta Menarik Peluncuran Satelit SATRIA-1 yang Nyaris Tanpa Insiden. (Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi/Foto)

RIAU24.COM - Peluncuran Satelit Republik Indonesia alias SATRIA-1 ke angkasa pada Senin (19/6) pagi WIB punya sejumlah fakta penting, mulai dari nilai proyek yang membengkak hingga layanannya yang khusus untuk kantor pemerintah.

"Untuk seluruh rakyat Indonesia, saya mengajak kita bersyukur, alhamdulillah, bahwa Satelit Republik Indonesia-1 atau SATRIA-1 sudah sukses meluncur ke angkasa pada pukul 18.21 waktu Florida Amerika Serikat atau persis jam 05.21 WIB tadi pagi," kata Pelaksana tugas Menteri Komunikasi dan Informatika Mahfud MD, dalam siaran videonya, di Jakarta, Senin (19/6). 

Menurutnya, SATRIA-1 merupakan satelit internet pertama milik Indonesia yang diluncurkan dengan Roket Falcon 9 milik SpaceX dari Cape Canaveral, Florida, Amerika Serikat (AS).

Sebelum diangkut ek Florida, SATRIA-1 yang merupakan satelit yang diproduksi oleh PT Satelit Nusantara 3 dibangun di Thales Alenia Space, Cannes, Peranscis.

Nyaris Tanpa Insiden 

Space Exploration technologies Corporation (SpaceX) meluncurkan satelit komunikasi ini ke orbit dari Florida pada Minggu (18/6) 18.21 EDT atau Senin (19/6) 05.21 WIB. 

Peluncuran SATRIA-1 sempat tertunda 17 menit dari jadwal semula pukul 18.04 waktu setempat atau Senin (19/6) pukul 05:04 WIB. Penundaan penerbangan itu terjadi akibat angin kencang.

Usai kendala teratasi, Falcon 9 terbang ke angkasa masih dalam time window peluncuran.

Pelepasan tahap II atau melepaskan satelit ke orbit dilakukan pada Senin (19/6) pukul 05.59 WIB. Satelit multifungsi ini akan menempati orbit 146° bujur timur, tepat di atas Pulau Papua.

Roket Falcon 9 kemudian kembali ke Bumi dengan pendaratan roket tanpa cela di laut.

Tak bisa langsung dipakai

SATRIA-1 akan dipantau oleh Thales Alenia Space untuk memastikan seluruh perangkat bisa berfungsi dengan baik.

"Mudah-mudahan semua perangkat yang ada di SATRIA-1 dapat bekerja dengan baik solar cell dan antenanya. Dan bisa terkendali dari stasiun bumi," tutur Plt Direktur Utama Badan Aksesibiiltas Telekomunikasi dan Informasi (BAKTI) Kominfo Arief Tri Hardiyanto.

30 ribu titik

Direktue Infrastruktur BAKTI KominfoDanny Januar Ismawan menyatakan hingga akhir 2023 SATRIA-1 akan melayani 20 hingga 30 ribu titik layanan publik di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T). 

"Setelah SATRIA-1 mencapai orbit dan uji coba, kapasitas awal 10 Gbps yang tersedia akan digunakan untuk melayani titik layanan publik. Selanjutnya secara bertahap, sesuai rencana dalam tiga tahun ke depan akan digunakan kapasitas hingga sampai 150 Gbps," tuturnya.

Fokus di kantor pemerintah

Mahfud menjelaskan tujuan peluncuran satelit ini adalah sebagai akselerasi penyediaan internet di kantor-kantor pemerintah di lokasi tak terjangkau jaringan fiber optik dalam 10 tahun ke depan.

"Saya ingin menegaskan tentang fungsi SATRIA-1 ini adalah untuk meratakan akses internet terutama untuk keperluan pendidikan, kesehatan, layanan publik, untuk masyarakat, untuk TNI, untuk Polri di seluruh wilayah tanah air khususnya di daerah tertinggal, terdepan dan terpencil (3T)," ungkapnya, dalam video siaran pers itu.

"Terutama untuk sekolah, rumah sakit, kantor-kantor pemerintah di daerah 3T, dan pos-pos Polri dan TNI di berbagai daerah terpencil, terluar, dan tertinggal," lanjut Menko Polhukam.

Masa Pakai 20 Tahun 

Dengan biaya proyek sekitar Rp8 Triliun, Satelit Satria-1 punya masa pakai tak lebih dari 20 tahun. 

Adi Rahman mengatakan satelit itu menjadi sampah antartika jika sudah melampaui periode penggunaan. 

"Jadi semua satelit yang tidak berfungsi akan disimpan di graveyard (kuburan) orbit," jelasnya. 

Ia memprediksi sampah antariksa dar Satelit SATRIA-1 akan meluncur kembali ek Bumi 100 ribu tahun mendtang. "Mungkin kita sudah tidak akan di sini". 

Tak terkait infrastruktur BAKTI

Meski butuh dukungan infrastruktur darat, MAhfud MD menyebut satelit terbesar pertama di Asia dan keliam di dunia itu tidak terkait dengan jaringan BAKTI yang tengah terkait kasus hukum. 

"Saya ingin membantah pendapat yang mengatakan SATRIA-1 tidak ada gunanya karena jaringan dibumi itu tidak bisa tersedia berhubungan adanya kasu BTS 4G yang sekarang ditangani oleh kejaksaan Agung," ujar Mahfud MD dalam sebuah keterangan, Senin (19/6). 

(***)