Menu

Ngaku Dapat Ancaman Balas Dendam, Israel Nyatakan Siap Perang Lawan Iran

Rizka 5 Apr 2024, 20:01
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu

RIAU24.COM Militer Israel pada Kamis (3/4) mulai memperkuat pertahanannya setelah serangan mereka terhadap konsulat Iran di Damaskus menuai ancaman pembalasan.

Lebih lanjut, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengungkapkan bahwa pihaknya siap perang lawan

"Selama bertahun-tahun, Iran telah bertindak melawan kami baik secara langsung maupun melalui proksinya; oleh karena itu, Israel bertindak melawan Iran dan proksinya, secara defensif dan ofensif," jelas Netanyahu, seperti dikutip dari Reuters, Kamis (4/4).

Ketegangan keduanya meningkat ketika Israel menyerang Kedutaan Besar Iran di Suriah hingga menewaskan dua jenderal beserta lima penasihat militernya.

Serangan tersebut menjadi ancaman serius terhadap kepentingan politik Iran di Suriah. Melihat hal itu, Iran pun bersumpah membalas serangan yang membunuh dua jenderal militernya.

Terlebih, proksi Iran di Irak, Kataib Hizbullah menyatakan siap untuk mempersenjatai 12 ribu pejuang di Yordania guna melawan Israel.

Kelompok Perlawanan Islam di Irak, yang diwakili oleh Kataib Hizbullah serta milisi Syiah lainnya, berkomitmen untuk memasok berbagai persenjataan mulai dari senjata ringan dan menengah hingga roket taktis, amunisi, serta bahan peledak.

Sebagai proksi dari Iran, mereka berupaya untuk menunjukkan "solidaritas tak tergoyahkan" dengan para pejuang di Palestina melalui pasokan itu.

Israel yang telah meningkatkan kampanye militernya melawan Iran pun menjadi khawatir terhadap berbagai ancaman yang mungkin datang.

Tentara Israel juga kerap terlibat dalam berbagai pertempuran dengan kelompok Hizbullah yang didukung Iran hingga Lebanon.

Kiprah Iran di kawasan Timur Tengah dinilai oleh beberapa pengamat sebagai upaya destabilisasi dari pengaruh yang sedang terbentuk dalam dinamika politiknya.

Namun, ancaman ketegangan antara Israel-Iran menjadi membuat Netanyahu memutuskan langkah serius untuk menunjukan supremasinya di kawasan Timur Tengah.