Harga Emas Naik 2,3 Persen, Perak 4,3 Persen setelah Gencatan Senjata
Analis logam independen Tai Wong menilai kenaikan harga emas saat ini merupakan respons spontan pasar terhadap meredanya ketegangan, meski ketidakpastian masih tinggi.
“Kenaikan ini merupakan knee-jerk relief rally dan masih perlu dilihat apakah Iran akan mematuhi kesepakatan. Untuk emas, level 200 day moving average di US$ 4.930 dan US$ 5.000 menjadi resistensi penting,” ujarnya dilansir dari Reuters.
Ia juga menyebut kisaran US$ 80–US$ 81 per ons menjadi level penting bagi pergerakan perak.
Kenaikan harga energi sebelumnya dikhawatirkan dapat memicu inflasi dan mempersulit kebijakan bank sentral terkait penurunan suku bunga. Emas sendiri dikenal sebagai lindung nilai inflasi sekaligus aset safe haven di tengah ketidakpastian, meski daya tariknya cenderung menurun saat suku bunga tinggi karena tidak memberikan imbal hasil.
Berdasarkan riset Federal Reserve Bank of Dallas, gangguan berkepanjangan pada perdagangan minyak global berpotensi mendorong inflasi AS melampaui 4% pada akhir tahun, dengan kenaikan lebih tajam dalam jangka pendek.
Sepanjang tahun berjalan, harga emas sempat menguat signifikan, namun telah terkoreksi lebih dari 8% sejak konflik Iran dimulai pada 28 Februari 2026. ***