Menu

Harga Emas Naik 2,3 Persen, Perak 4,3 Persen setelah Gencatan Senjata

Devi 8 Apr 2026, 08:58
Harga Emas Naik 2,3 Persen, Perak 4,3 Persen setelah Gencatan Senjata
Harga Emas Naik 2,3 Persen, Perak 4,3 Persen setelah Gencatan Senjata

RIAU24.COM -  Harga emas dunia melanjutkan penguatan pada perdagangan Rabu (8/4/2026) seiring pelaku pasar mengevaluasi kembali risiko jangka pendek setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyatakan penghentian sementara serangan terhadap Iran.

Kebijakan tersebut meredakan kekhawatiran terhadap inflasi yang dipicu lonjakan harga energi.

Harga emas spot naik 2,3% menjadi US$ 4.811,66 per ons, setelah sebelumnya menguat 1,2%. Sementara itu, kontrak emas berjangka AS untuk pengiriman Juni meningkat 3,3% menjadi US$ 4.840,20 per ons.

Sementara itu, logam lainnya juga mencatatkan penguatan. Harga perak spot naik 4,3% menjadi US$ 76,08 per ons, platinum menguat 2,4% ke US$ 2.004,95, dan palladium naik 2,1% menjadi US$ 1.500 per ons.

Trump menyatakan pemerintah AS menyepakati jeda serangan selama dua pekan dan telah menerima proposal 10 poin dari Iran yang dinilai sebagai dasar yang layak untuk memulai negosiasi.

Pernyataan tersebut menyusul tekanan sebelumnya agar Iran membuka kembali Selat Hormuz atau menghadapi potensi pembalasan dari AS.

Analis logam independen Tai Wong menilai kenaikan harga emas saat ini merupakan respons spontan pasar terhadap meredanya ketegangan, meski ketidakpastian masih tinggi.

Kenaikan ini merupakan knee-jerk relief rally dan masih perlu dilihat apakah Iran akan mematuhi kesepakatan. Untuk emas, level 200 day moving average di US$ 4.930 dan US$ 5.000 menjadi resistensi penting,” ujarnya dilansir dari Reuters.

Ia juga menyebut kisaran US$ 80–US$ 81 per ons menjadi level penting bagi pergerakan perak.

Kenaikan harga energi sebelumnya dikhawatirkan dapat memicu inflasi dan mempersulit kebijakan bank sentral terkait penurunan suku bunga. Emas sendiri dikenal sebagai lindung nilai inflasi sekaligus aset safe haven di tengah ketidakpastian, meski daya tariknya cenderung menurun saat suku bunga tinggi karena tidak memberikan imbal hasil.

Berdasarkan riset Federal Reserve Bank of Dallas, gangguan berkepanjangan pada perdagangan minyak global berpotensi mendorong inflasi AS melampaui 4% pada akhir tahun, dengan kenaikan lebih tajam dalam jangka pendek.

Sepanjang tahun berjalan, harga emas sempat menguat signifikan, namun telah terkoreksi lebih dari 8% sejak konflik Iran dimulai pada 28 Februari 2026. ***