Menu

Usulan Larangan Sepeda Motor Bensin Mengancam Duopoli Kendaraan Roda Dua di Indonesia

Devi 17 Apr 2026, 08:29
Usulan Larangan Sepeda Motor Bensin Mengancam Duopoli Kendaraan Roda Dua di Indonesia
Usulan Larangan Sepeda Motor Bensin Mengancam Duopoli Kendaraan Roda Dua di Indonesia

RIAU24.COM Indonesia sedang mempertimbangkan penghentian bertahap penjualan sepeda motor berbahan bakar bensin dan penggantiannya dengan model listrik, sebuah langkah yang dapat mengubah salah satu pasar kendaraan roda dua terbesar di dunia dan menantang struktur industri yang telah lama didominasi oleh produsen Jepang.

Usulan tersebut, yang diumumkan pekan lalu oleh Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita, akan menandai salah satu transisi transportasi paling ambisius di negara ini hingga saat ini. Jika diimplementasikan, hal itu dapat mengganggu pasar di mana Honda dan Yamaha telah mengendalikan penjualan selama beberapa dekade.

Indonesia menjual 6,58 juta sepeda motor baru pada tahun 2025 saja, menjadikannya salah satu pasar sepeda motor terbesar di dunia. Honda menyumbang 76,2% dari penjualan, sementara Yamaha memegang 19,4%. Sisanya dibagi di antara pemain yang lebih kecil, termasuk Kawasaki, Suzuki, dan TVS.

Pergeseran paksa ke sepeda motor listrik dapat melemahkan dominasi tersebut. Baik Honda maupun Yamaha belum mengumumkan rencana penjualan sepeda motor listrik komersial skala besar di Indonesia, meskipun telah memamerkan prototipe dan model uji coba. Sementara itu, setidaknya 17 merek sepeda motor listrik -- termasuk produsen dalam negeri -- telah memasuki pasar dan membentuk asosiasi industri mereka sendiri.

Transisi kendaraan listrik secara keseluruhan di Indonesia berjalan tidak merata. Adopsi mobil listrik telah meningkat tajam selama tiga tahun terakhir, tetapi sepeda motor listrik kesulitan mendapatkan daya tarik di kalangan konsumen.Panduan Kota & Lokal

Penjualan mobil listrik grosir melonjak 141% secara tahunan pada tahun 2025 menjadi 103.931 unit, menurut data dari Asosiasi Industri Otomotif Indonesia (Gaikindo). Sebaliknya, penjualan sepeda motor listrik turun 28,6% menjadi 55.059 unit pada tahun 2025 dari 77.078 unit pada tahun sebelumnya, berdasarkan data persetujuan Kementerian Perhubungan.

Mobil listrik mewakili sekitar 12,5% dari total penjualan mobil baru di Indonesia tahun lalu, sementara sepeda motor listrik hanya merupakan sebagian kecil dari pasar kendaraan roda dua yang luas di negara ini.

Para eksekutif industri mengatakan permintaan sepeda motor listrik sangat bergantung pada subsidi. Insentif negara sebesar Rp 7 juta ($408) yang ditawarkan pada tahun 2024 untuk model-model lokal yang memenuhi syarat membantu mendorong penjualan, tetapi momentum tersebut memudar setelahnya.

“Tanpa subsidi, penjualan sepeda motor listrik akan stagnan atau bahkan menurun,” kata Budi Setiyadi, ketua Asosiasi Industri Sepeda Motor Listrik Indonesia (Aismoli).Direktori bisnis Indonesia

Industri Terpecah Belah Terkait Usulan Penghapusan Bertahap

Tanpa ragu, Aismoli mendukung usulan pemerintah yang sangat menguntungkan pasar sepeda listrik.

“Pada prinsipnya, kami sangat mendukung upaya pemerintah untuk memperkuat pasar kendaraan listrik domestik. Pasar lokal yang kuat sangat penting untuk membangun industri yang berkelanjutan -- mulai dari peningkatan produksi dan kemajuan teknologi hingga penciptaan lapangan kerja,” kata Budi kepada Jakarta Globe.

 Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI), yang anggotanya termasuk Honda dan Yamaha, belum mengambil posisi resmi. Sekretaris Jenderal Hari Setiyono mengatakan kelompok tersebut masih menunggu rincian kebijakan.

“Kita tunggu saja dan lihat seperti apa kebijakan resminya,” katanya.

 Perwakilan dari Honda Astra Motor dan Yamaha Indonesia Motor Manufacturing tidak menanggapi permintaan komentar.

Penolakan Konsumen dan Kesenjangan Infrastruktur

Para analis memperingatkan bahwa rencana tersebut menghadapi hambatan besar, terutama preferensi konsumen, penetapan harga, dan kesiapan infrastruktur.

Pengamat otomotif Bebin Djuana mengatakan pengendara di Indonesia tetap sangat loyal kepada merek-merek Jepang yang sudah mapan, sementara penawaran kendaraan listrik yang ada belum mampu meyakinkan pembeli di pasar massal.

“Yamaha telah beberapa kali memamerkan model listrik tetapi belum menjualnya secara komersial. Honda telah memperkenalkan model listrik, tetapi harganya masih tinggi dan jangkauannya terbatas, sehingga kurang menarik,” katanya.

Dia menambahkan bahwa para produsen mungkin memiliki kapasitas untuk memproduksi jutaan sepeda motor setiap tahunnya, tetapi masih belum jelas apakah mereka memiliki model EV terjangkau yang siap untuk produksi massal.

 Pemerintah juga mengejar target ambisius lainnya: mengubah 120 juta sepeda motor bensin yang ada menjadi kendaraan listrik dalam waktu lima tahun.

 Fahmy Radhi, seorang analis energi di Universitas Gadjah Mada, mengatakan bahwa tujuan tersebut tidak realistis dalam kondisi saat ini. Bengkel konversi masih terbatas, infrastruktur pengisian daya jarang tersedia di luar pusat kota besar, dan banyak konsumen masih lebih menyukai sepeda motor bensin karena nilai jual kembalinya yang lebih tinggi.

Ia juga mencatat bahwa sekitar 56% pembangkit listrik Indonesia masih berasal dari batu bara, sehingga mengurangi keuntungan lingkungan dari elektrifikasi kendaraan.Direktori bisnis Indonesia

“Kita harus menetapkan target yang mencerminkan kapasitas kita yang sebenarnya. Tujuan yang terlalu ambisius berisiko meleset dari sasaran,” katanya. ***