Dari Bersepeda hingga Jalan Kaki: Cerita Karyawan PalmCo Dukung Kampanye Bebas Emisi
RIAU24.COM - Isu penghematan energi kembali menjadi perhatian di tengah pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
Pemerintah mendorong efisiensi konsumsi bahan bakar minyak, penggunaan transportasi publik, serta perubahan pola mobilitas masyarakat sebagai bagian dari upaya menjaga ketahanan energi nasional.
Di tengah dorongan itu, sejumlah karyawan PTPN IV PalmCo memilih cara yang sederhana untuk beradaptasi. Mereka tidak memulainya dari program besar atau seremoni formal, melainkan dari rutinitas paling dekat dengan kehidupan sehari-hari seperti perjalanan menuju kantor.
Ada yang naik kereta, menggunakan bus, bersepeda, hingga berjalan kaki.
Bagi sebagian karyawan, pilihan itu awalnya lahir karena alasan praktis. Lebih hemat, lebih cepat, atau lebih sehat. Namun, dalam keseharian, kebiasaan tersebut juga beririsan dengan isu yang lebih luas: pengurangan konsumsi BBM dan emisi dari kendaraan pribadi.
Di Head Office PTPN IV PalmCo, Nabila Shifa menjadi salah satu karyawan yang memilih menggunakan transportasi umum. Setiap hari, ia menempuh perjalanan dari Depok menuju Jakarta dengan Commuter Line.
Sebagai warga komuter, Nabila sudah akrab dengan ritme pagi: berangkat lebih awal, menuju stasiun, menunggu kereta, lalu melanjutkan perjalanan ke kantor. Rutinitas itu ia jalani hampir setiap hari.
“Awalnya saya menggunakan Commuter Line karena lebih praktis dari Depok ke Jakarta. Tetapi lama-kelamaan saya merasa ini juga menjadi cara sederhana untuk ikut mengurangi penggunaan kendaraan pribadi,” ujar Nabila.
Menurut Nabila, menggunakan transportasi umum membuat perjalanan hariannya lebih terukur. Ia tidak perlu menghadapi kemacetan dengan kendaraan pribadi dan dapat memperkirakan waktu tempuh dengan lebih baik.
“Dengan Commuter Line, saya bisa memperkirakan waktu perjalanan. Biayanya juga lebih efisien. Bagi saya, ini bukan hanya soal berangkat kerja, tetapi juga soal membangun kebiasaan yang lebih bertanggung jawab terhadap energi dan lingkungan,” katanya.
Pilihan serupa juga dilakukan Christovanly, karyawan PTPN IV PalmCo Head Office. Ia menggunakan Bus TransJakarta sebagai moda transportasi menuju kantor. ****
Di Jakarta, TransJakarta menjadi salah satu pilihan pekerja yang ingin menghindari penggunaan kendaraan pribadi. Bagi Christovanly, naik bus bukan sekadar pilihan transportasi, tetapi juga cara untuk ikut mengurangi kepadatan lalu lintas dan konsumsi BBM.
“TransJakarta sangat membantu mobilitas saya. Selain lebih hemat, saya juga merasa ikut berkontribusi dalam mengurangi kepadatan lalu lintas dan konsumsi BBM,” ujar Christovanly.
Ia menyebut, perubahan kebiasaan tidak selalu harus dilakukan dengan cara besar. Menurutnya, keputusan kecil seperti memilih transportasi publik dapat memberi dampak apabila dilakukan banyak orang secara konsisten.
“Mungkin terlihat sederhana, hanya memilih naik bus. Tapi kalau dilakukan oleh banyak orang, dampaknya akan terasa. Kita bisa ikut mendukung efisiensi energi dari kebiasaan sehari-hari,” katanya.
Jika di Jakarta sebagian karyawan memilih transportasi umum, cerita berbeda muncul dari PTPN IV Regional III Riau. Di sana, sejumlah karyawan mulai menggunakan sepeda untuk berangkat ke kantor.
Gerakan itu tumbuh melalui Komunitas Gowes Regional III atau Go_R3. Komunitas tersebut menjadi ruang bagi karyawan yang memiliki minat bersepeda sekaligus ingin membiasakan mobilitas yang lebih sehat.
Ketua Go_R3, Hendra, mengatakan sejak awal bulan lalu jumlah karyawan yang menggunakan sepeda ke kantor mulai bertambah. Menurutnya, kebiasaan tersebut tidak hanya berkaitan dengan olahraga, tetapi juga menjadi bagian dari upaya mengurangi penggunaan kendaraan bermotor.
“Sejak awal bulan lalu, kami melihat semakin banyak karyawan yang menggunakan sepeda ke kantor. Ini perkembangan yang positif karena bersepeda bukan hanya membuat tubuh lebih sehat, tetapi juga menjadi bentuk dukungan terhadap efisiensi energi,” ujar Hendra.
Hendra mengatakan, aktivitas bersepeda juga membangun suasana kebersamaan di antara karyawan. Mereka yang biasanya bertemu di ruang kerja, kini memiliki ruang interaksi lain melalui kegiatan gowes.
“Kami ingin gerakan ini berkelanjutan. Kalau semakin banyak karyawan yang ikut, pesan yang disampaikan juga semakin kuat bahwa kita bisa berkontribusi terhadap penghematan energi mulai dari diri sendiri,” katanya.
Dari Riau, cerita berlanjut ke Medan. Di PTPN IV Regional I, Rahmad Syahputra memilih berjalan kaki menuju kantor setiap hari. Keputusan itu ia lakukan bukan karena kampanye tertentu, tetapi karena ia memang menyukai olahraga.
“Bagi saya berjalan kaki ke kantor itu menyenangkan. Saya memang suka olahraga, jadi aktivitas ini sekaligus menjadi cara menjaga kebugaran sebelum mulai bekerja,” ujar Rahmad.
Bagi Rahmad, berjalan kaki menjadi pilihan yang masuk akal selama jarak rumah dan kantor masih memungkinkan. Ia merasa tubuhnya lebih siap untuk bekerja setelah bergerak sejak pagi.
“Kalau jaraknya masih bisa ditempuh dengan berjalan kaki, saya lebih memilih jalan. Lebih sehat, lebih sederhana, dan tentu lebih hemat energi,” katanya.
Kebiasaan serupa juga dilakukan Hery Kusdiyanto, karyawan PTPN IV Regional VII Lampung. Setiap hari, ia berjalan kaki menuju kantor. Alasannya sederhana: lebih hemat.
“Menurut saya berjalan kaki itu lebih hemat. Tidak perlu biaya transportasi, tidak menggunakan BBM, dan badan juga terasa lebih segar,” ujar Hery.
Menurut Hery, berjalan kaki menjadi bentuk penghematan yang paling mudah dilakukan apabila kondisi memungkinkan. Ia tidak perlu mengeluarkan biaya perjalanan, sekaligus mendapatkan manfaat kesehatan.
“Kalau bisa dimulai dari diri sendiri, kenapa tidak? Hal kecil seperti berjalan kaki ternyata memberi manfaat untuk kesehatan dan lingkungan,” katanya.
Cerita para karyawan PalmCo dari Jakarta, Riau, Medan, hingga Lampung memperlihatkan bahwa isu efisiensi energi tidak selalu jauh dari kehidupan sehari-hari. Dalam banyak hal, ia justru hadir melalui pilihan-pilihan kecil yang berulang: naik kereta, naik bus, bersepeda, atau berjalan kaki.
Di tengah dorongan pemerintah untuk memperkuat penghematan energi dan mengurangi ketergantungan pada BBM, kebiasaan semacam ini menjadi relevan. Bukan sebagai gerakan besar yang penuh slogan, tetapi sebagai praktik sederhana yang bisa dilakukan sesuai kondisi masing-masing.
Bagi karyawan yang tinggal di wilayah dengan akses transportasi publik, kereta dan bus menjadi pilihan. Bagi yang jarak rumahnya tidak terlalu jauh dari kantor, sepeda atau berjalan kaki menjadi alternatif. Pilihan-pilihan tersebut mungkin tampak kecil, tetapi dapat membawa dampak apabila dilakukan secara luas dan konsisten.
Pada akhirnya, kampanye bebas emisi tidak hanya berbicara tentang teknologi, kendaraan listrik, atau kebijakan berskala besar. Ia juga bisa dimulai dari perjalanan pagi para pekerja menuju kantor.
Dari satu tiket kereta, satu perjalanan bus, satu kayuhan sepeda, hingga satu langkah kaki, upaya menghemat energi menemukan bentuknya yang paling sederhana.