Menu

Dari Hutan Sakral Menjadi Destinasi Wisata: Kisah Bangkitnya Imbo Putui Menggerakkan Ekonomi Desa

Devi 5 Mar 2026, 10:56
 Imbo Putui
Imbo Putui

RIAU24.COM - Di antara rimbunnya pepohonan dan aliran sungai yang masih jernih, Hutan Adat Imbo Putui di Desa Petapahan, Kabupaten Kampar, Riau, menyimpan cerita tentang bagaimana alam dan masyarakat dapat tumbuh bersama. Kawasan yang dahulu hanya dikenal sebagai hutan adat yang dijaga turun-temurun, kini perlahan menjelma menjadi destinasi wisata berbasis konservasi yang membawa harapan baru bagi warga sekitar.

Perubahan itu tidak datang dalam semalam.

Hutan Adat Imbo Putui melewati perjalanan panjang hingga mampu menarik perhatian wisatawan. Kolaborasi antara masyarakat, pemerintah desa, dan PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) Zona Rokan melalui Program Desa Wisata menjadi salah satu penggerak utama transformasi kawasan tersebut.

Bagi masyarakat Petapahan, hutan bukan sekadar hamparan pepohonan. Kawasan ini merupakan bagian dari identitas dan warisan adat yang harus dijaga.

Imbo Putui tercatat sebagai hutan adat pertama di Provinsi Riau yang memperoleh pengakuan resmi dari negara melalui Surat Keputusan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan pada 2019. Setahun kemudian, kawasan ini ditetapkan secara resmi oleh Presiden Joko Widodo sebagai hutan adat.

Pengakuan tersebut menjadi tonggak penting bagi masyarakat. Hutan yang selama ini dijaga dengan nilai-nilai adat mulai dikembangkan sebagai ruang wisata yang tetap mempertahankan prinsip kelestarian lingkungan.

Keindahan alam menjadi modal utama Imbo Putui. Sungai yang membelah kawasan hutan, jalur trekking di antara pepohonan, serta area berkemah menjadi daya tarik bagi pengunjung yang ingin menikmati suasana alam jauh dari hiruk-pikuk perkotaan.

Namun, potensi besar itu sebelumnya belum sepenuhnya tergarap. Keterbatasan fasilitas dasar dan pengelolaan wisata menjadi tantangan yang harus dihadapi masyarakat. Sarana mandi, cuci, kakus (MCK), area camping, hingga kemampuan pengelola dalam mengembangkan destinasi masih membutuhkan peningkatan.

Melihat potensi tersebut, PHR melalui program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) hadir mendukung pengembangan kawasan. Tidak hanya membangun fasilitas fisik, program ini juga berfokus pada peningkatan kemampuan masyarakat dalam mengelola wisata secara mandiri.

Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Imbo Putui mendapatkan pendampingan mulai dari pelatihan pengelolaan desa wisata, promosi digital, hingga penguatan tata kelola kawasan. Perlahan, masyarakat mulai memiliki bekal untuk menjadikan wisata alam tersebut lebih profesional tanpa meninggalkan nilai adat.

Kini, perubahan mulai terlihat. Fasilitas MCK yang sebelumnya hanya tersedia dua unit bertambah menjadi enam unit. Area camping diperluas, musala diperbaiki, papan informasi diperbarui, dan tempat sampah ditambah demi menjaga kenyamanan pengunjung sekaligus melindungi kawasan hutan.

Ketua Pokdarwis Imbo Putui, Said Afrizal, yang akrab disapa Eja, merasakan langsung perubahan tersebut. Menurutnya, pembangunan fasilitas harus berjalan seiring dengan perubahan cara masyarakat mengelola kawasan wisata.

"Kami bersama masyarakat terus menjaga kebersihan kawasan, mengatur area perkemahan, dan memastikan pengunjung mengikuti aturan adat yang berlaku. Pesan kami kepada pengunjung adalah menjaga fasilitas yang sudah tersedia, tidak membuang sampah sembarangan, tidak menebang pohon, dan tetap menghormati aturan adat," ujar Eja.

Upaya tersebut mulai membuahkan hasil. Dalam periode libur panjang terakhir, jumlah wisatawan yang datang ke Imbo Putui diperkirakan mencapai hampir 400 orang. Mereka datang dari berbagai kalangan, mulai dari keluarga, komunitas, hingga mahasiswa yang memanfaatkan kawasan tersebut sebagai tempat rekreasi sekaligus pembelajaran tentang alam.

Meningkatnya jumlah kunjungan turut membawa dampak ekonomi bagi warga. Jika sebelumnya pendapatan masyarakat dari aktivitas wisata hanya sekitar Rp300 ribu per minggu, angka tersebut kini dapat mencapai sekitar Rp3 juta per minggu saat musim liburan.

Bagi masyarakat Petapahan, angka tersebut bukan sekadar peningkatan pendapatan. Ia menjadi bukti bahwa menjaga hutan dapat berjalan beriringan dengan membuka peluang ekonomi baru.

Manager Corporate Social Responsibility (CID) PHR, Iwan Ridwan Faizal, mengatakan pengembangan Imbo Putui merupakan bagian dari komitmen perusahaan untuk menciptakan manfaat ekonomi sekaligus menjaga lingkungan dan budaya lokal.

"Melalui kolaborasi ini, kami ingin memastikan kekayaan alam dan budaya tetap lestari serta mampu memberikan nilai tambah ekonomi bagi masyarakat desa. Harapannya, Imbo Putui dapat menjadi contoh desa wisata berkelanjutan di Riau," katanya.

Kisah Imbo Putui menunjukkan bahwa hutan tidak hanya menyimpan kekayaan alam, tetapi juga menyimpan peluang bagi kehidupan masyarakat di sekitarnya. Dengan menjaga hutan, warga tidak hanya mempertahankan warisan leluhur, tetapi juga membuka jalan menuju masa depan ekonomi desa yang lebih mandiri.

Dari hutan adat yang dijaga dengan kearifan lokal, lahirlah destinasi wisata yang memberi manfaat tanpa harus mengorbankan alam. Imbo Putui menjadi bukti bahwa konservasi dan kesejahteraan masyarakat dapat berjalan dalam satu langkah yang sama. ***