Menu

Memilukan! 2 Anak Maninggal di Pengunsian Gempa NTT, KPAI Ungkap Fakta Mengejutkan 

Zuratul 24 Aug 2026, 09:58
Mario Calviano Guru (2), balita asal Nagekeo, NTT yang meninggal dunia karena kedinginan. (Tangkapan Layar/Kumparan)
Mario Calviano Guru (2), balita asal Nagekeo, NTT yang meninggal dunia karena kedinginan. (Tangkapan Layar/Kumparan)

RIAU24.COM - Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mengungkap seidkitnya dua anak meninggal dunia di lokasi pengungsian usai gempa bumi melanda sjumlah wilayan di Nusa Tenggara Timur (NTT). 

Kondisi kesehatan dan situasi pengungsi menjadi perhatian dalam pemenuhan hak anak pascabencana. 

Diyah Puspitarini, salah satu anggota KPAI mengatakan kedua anak tersbeut meninggal dunia usai mengalamai sakit yang kondisinya diperparah oleh keadaan di tempat pengungsian. 

"Pilunya, beberapa anak meninggal di pengungsian. Sampai hari ini, yang meninggal dunia yang terpantau kami, ada dua anak," kata Diyah Puspitarini saat dihubungi di Jakarta, Minggu.

Menurutnya, kedua anak tersebut meninggal di akibatkan sakit. 

KPAI meminta pemerintah bersama dengan para pemangku kepentingan di tingkat pusat dan daerah segera memberikan [erhatian terlebih dahulu terhadap anak-anak yang menghadapi kerentanan berlapis. 

Kelompok tersebut mencakup anak penyandang disabilitas, anak yang kehilangan orang tua, anak yang terpisah dari keluarga, anak yang sakit, bayi dan balita, serta anak lain yang membutuhkan perlindungan khusus. 

Diyah menilai langkah tersebut diperlukan karena penanganan bencana tidak hanya berkaitan dengan upaya memastikan keselamatan fisik anak. Perlindungan terhadap anak selama berada dalam situasi darurat juga mencakup berbagai kebutuhan dasar dan aspek pengasuhan.

Menurut dia, negara perlu memastikan anak berada dalam kondisi aman, tetap mendapatkan pengasuhan yang layak, memperoleh layanan dasar, terlindungi dari berbagai bentuk kekerasan, serta memiliki kesempatan untuk menjalani pemulihan secara fisik dan psikologis.

Untuk memastikan kebutuhan tersebut terpenuhi, KPAI mendorong pemerintah pusat dan pemerintah daerah melakukan evaluasi menyeluruh terhadap pemenuhan hak anak dalam penanganan gempa NTT.

"Evaluasi tersebut perlu mencakup pendataan anak, mekanisme pengasuhan, layanan kesehatan dan psikososial, pendidikan, keamanan tempat pengungsian, serta mekanisme pencegahan dan penanganan kekerasan terhadap anak," kata Diyah Puspitarini.

Di tengah perhatian terhadap kondisi anak di pengungsian, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat jumlah korban meninggal akibat gempa bumi yang melanda Nusa Tenggara Timur (NTT) mencapai 91 jiwa hingga Minggu (23/8/2026) pukul 16.00 WIB. Jumlah tersebut bertambah empat jiwa dibandingkan dengan data pada hari sebelumnya.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan menyampaikan perkembangan data korban tersebut dalam jumpa pers daring, Minggu.

“Saat ini, hingga pukul 16.00 WIB Minggu 23 Agustus, jumlah korban meninggal sebanyak 91 jiwa atau bertambah 4 jiwa dari hari sebelumnya. Dengan rincian Manggarai 32 jiwa, Manggarai Timur 31 jiwa, Sikka 6 jiwa, Ende 2 jiwa, Manggarai Barat 1 jiwa, Nagekeo 14 jiwa, Ngada 5 jiwa,” kata Berton.

Dengan demikian, perhatian penanganan gempa NTT tidak hanya mencakup pendataan korban meninggal, tetapi juga kondisi kelompok rentan yang masih berada di pengungsian, termasuk anak-anak yang membutuhkan layanan kesehatan, pengasuhan, perlindungan, dan dukungan psikososial.

(***)