Menu

Rocky Gerung Sebut Istana Sarang Korupsi, Singgung Gibran Mundur

Zuratul • 8 Oct 2026, 17:00
Rocky Gerung Anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres). (Foto: Riau1.com)
Rocky Gerung Anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres). (Foto: Riau1.com)

RIAU24.COM - Pengamat politik Rocky Gerung menjelaskan alasannya menerima posisi sebagai anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) di tengah sikapnya yang selama ini dikenal kritis terhadap pemerintah.

Rocky mengatakan keputusannya masuk ke lingkungan Istana bukan berarti dirinya mengubah sikap terhadap kekuasaan. Ia justru mengaku ingin menggunakan kedekatan tersebut untuk mengkritik dan mengingatkan Presiden Prabowo Subianto secara langsung.

Hal itu disampaikan Rocky saat berbincang dalam podcast Akbar Faizal Uncensored.

"Saya anti-power. Anti-surplus of power. Jadi kalau saya masuk ke dalam untuk menghentikan surplus of power, apa bedanya?" kata Rocky dalam podcast tersebut.

Rocky bahkan menyebut Istana sebagai "sarang korupsi". Menurut dia, persoalannya bukan semata-mata siapa yang berada di dalam Istana, melainkan bagaimana kekuasaan digunakan.

"Istana adalah sarang korupsi," ujar Rocky.

Ia mengatakan dirinya tidak masuk ke pemerintahan untuk menjadi menteri. Rocky menyebut dirinya berada di Wantimpres untuk memberikan pertimbangan kepada Presiden.

Menurut Rocky, posisinya di dekat Presiden justru membuatnya dapat menyampaikan pandangan secara langsung, termasuk mengenai konsekuensi etik dari kebijakan pemerintah.

"Saya akan berpikir seperti sebelumnya. Saya akan menulis seperti sebelumnya," kata dia.

Rocky juga mengatakan Presiden Prabowo telah mengetahui karakter dan pandangannya sebelum dirinya berada di lingkungan Istana. Karena itu, ia mengaku tidak ingin mengubah cara berpikir hanya karena mendapatkan posisi sebagai anggota Wantimpres.

Rocky Singgung Gibran

Dalam perbincangan yang sama, Rocky turut membahas Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka ketika membicarakan polemik hukum dan politik yang berkaitan dengan Gibran.

Rocky kemudian menyampaikan pandangan mengenai kemungkinan Gibran mengundurkan diri dari jabatan Wakil Presiden.

"Betapa elegannya kalau Gibran mengundurkan diri," kata Rocky.

Menurut Rocky, pengunduran diri Gibran dapat menjadi salah satu cara untuk meredakan ketegangan politik dan mencegah persoalan tersebut berkembang menjadi gejolak di masyarakat.

Ia juga menilai langkah itu dapat mencegah Presiden Prabowo ikut terseret dalam persoalan politik yang berkaitan dengan Gibran.

Namun, Rocky menegaskan pandangan mengenai Gibran mundur tersebut merupakan pendapat pribadinya, bukan pernyataan resmi Wantimpres.

"Ini representasi logika saya secara pribadi," ujar Rocky.

Rocky mengatakan dirinya tidak dapat mengungkapkan isi pertimbangan atau pembicaraan internal Wantimpres dengan Presiden. Ia membedakan pandangan pribadinya dengan sikap resmi lembaga.

Ingin Tetap Kritis di Lingkungan Istana

Rocky mengatakan keberadaannya di Wantimpres menjadi ujian bagi dirinya untuk tetap mempertahankan sikap kritis ketika berada dekat dengan kekuasaan.

Ia menilai seorang penasihat Presiden tidak seharusnya hanya memberikan masukan teknis. Menurut Rocky, pertimbangan mengenai persoalan etik juga penting dalam setiap kebijakan pemerintah.

Ia mencontohkan isu hak asasi manusia, lingkungan, Papua hingga kebijakan ekonomi sebagai persoalan yang semestinya dapat dibahas secara lebih luas di lingkungan Istana.

Rocky juga mengkritik anggapan bahwa lembaga penasihat Presiden hanya menjadi tempat bagi para pejabat yang sudah tidak lagi memegang jabatan.

Menurut dia, Wantimpres seharusnya menjalankan fungsi memberikan pertimbangan kepada Presiden, termasuk menyampaikan kritik ketika kebijakan pemerintah dinilai memiliki persoalan.

Bagi Rocky, berada dekat dengan kekuasaan justru menjadi ujian terhadap integritas seseorang. Ia ingin membuktikan bahwa masuk ke lingkungan Istana tidak harus membuat seorang pengkritik kehilangan sikap kritisnya.

(zar)