Menu

Bantah Keterangan Pemerintah China, Ini Pengakuan Muslim Uighur Mantan Tahanan Kamp Xinjiang

Siswandi 13 Jan 2019, 00:34
Warga muslim Uighur yang ditahan di kamp Xinjiang China. Foto ini telah beredar luas di berbagai media massa internasional. Foto: int
Warga muslim Uighur yang ditahan di kamp Xinjiang China. Foto ini telah beredar luas di berbagai media massa internasional. Foto: int

RIAU24.COM -  Kabar tentang masyarakat muslim Uighur di China yang ditahan di kamp Xinjiang, bukanlah isapan jempol belaka. Beragam penindasan mereka rasakan selama berada di sana. Itulah yang dirasakan salah seorang mantan penghuni kamp reedukasi Uighur di Provinsi Xianjang China, Gulbachar Jalilova (54).

Pengakuannya itu seolah membantah keterangan yang pernah disampaikan Dubes China untuk Indonesia, beberapa waktu lalu.

Hal itu ia ungkapkan dalam konferensi pers yang diadakan Aksi Cepat Tanggap (ACT), di Bebek Bengil, Menteng, Jakarta, Sabtu 12 Januari 2019 malam tadi.  Kegiatan itu mengangkat tema 'Kesaksian dari Balik Tembok Penjara Uighur'.

Dalam kesempatan itu, ia menuturkan pengalamannya selama satu tahun enam bulan sepuluh hari mendekam di kamp tersebut.

"Saya dikurung di ruangan 7x3x6 meter tanpa jendela, semua orang di dalam ruangan harus menghadap ke arah yang sama yakni foto Presiden Cina Xi Jinping," ujarnya, seperti dilansir republika.co.id.

Sebelumnya, pemerintah China mengatakan, kamp edukasi untuk menghindari terorisme, separatisme dan ekstremisme.

Tapi kenyataannya, orang yang tidak terkait dengan ketiga hal itu tetap saja ditangkap dengan semena-mena. "Asal seseorang keturuan Muslim Uighur, dia pasti ditangkap," tegas Jalilova.

Dikatakan, ia diciduk aparat Cina di Kota Urumqi, Provinsi Xianjang. Ia ditangkap setelah ketahuan bahwa ia adalah salah seorang keturunan etnis Uighur, meski dia berasal dari Kazakhtan-Cina Xianjang.

Awalnya, Jalilova mengaku bingung, karena ia dituduh mentransfer sejumlah dana ilegal dari China dan Turki ke Xinjang.

"Ketika saya berada di kamp, saya memberi tahu mereka bahwa saya adalah orang asing dan bahwa saya tidak melakukan kesalahan," katanya.

Setelah tiga bulan berada di kamp, ia baru menjalani interogasi oleh petugas China. Namun demikian, Jalilova mengaku kondisi itu masih mendingan. Karena ada tahanan lain, baru diinterogasi setelah setahun ditahan.

Yang membuat dirinya merasa merana, ia terpaksa harus berpisah dengan istri dan tiga anaknya, tanpa bisa memberi kabar. Karena di kamp, para tahanan etnis Uighur tak diberi kesempatan melakukan komunikasi langsung dengan keluarga.

Walhasil, Ketiga anaknya hanya bisa mengirim surat ke kamp Uighur sepekan sekali, tanpa pernah menerima surat balasan darinya.

"Kami diberitahu bahwa kami tidak memiliki hak di sana. Kami tidak memiliki hak untuk melakukan panggilan telepon, kami seperti orang mati," tuturnya lagi.

Pengakuan Jalilova itu membuat terkejut bagi siapa saja yang mendengarnya. Dia dikurung di dalam kamar dan hanya diberi waktu tidur selama empat jam sehari. Hal itu disebabkan ruangan tahanan kecil dan pengap namun dihuni 40-50 orang tahanan. Jika ingin tidur, mereka harus bergantian.

"Kamar sangat pengap, kadang mereka juga mengikat logam seberat lima kilogram di kaki kami sebagai hukuman," tambahnya.

Tak hanya itu, hukuman tambahan sudah menanti, jika para tahanan Uighur ketahuan melakukan tindakan-tindakan yang mencurigakan bagi China Komunis. Semisal jika minum dan memakai air yang berlebihan, mereka akan disangka berwudhu untuk melakukan ibadah salat.

Pendidikan vokasi yang disebut China, menurut Jalilova lebih berupa pemberian ajaran-ajaran komunis, baik berupa undang-undang komunis, maupun lagu-lagu mars komunis. Semua wajib dihafal, wajib dipelajari bahkan dijadikan ujian.

Selain itu, penyiksaan fisik juga sudah menjadi santapan setiap hari. Sehingga berat badannya menyusut drastis hingga 20 kilogram. Yang lebih tragis, tidak hanya menghadapi penyiksaan,  tidak sedikit di antara tahanan yang kemudian dihukum mati.

"Saya pernah dibawa ke rumah sakit setelah disiksa dan mendengar seorang perempuan akan dibebaskan. Padahal sebenarnya dia akan dihukum mati," tuturnya.

"Saya berharap internasional mendesak pemerintah Cina mengakhiri operasi kamp tersebut," harapnya.

Sementara itu, Ketua Majelis Nasional Turkistan Timur, Seyit Tumturk yang juga tampil sebagai pembicara mengatakan setidaknya ada sekitar tiga juta warga Muslim Uighur yang ditahan di Kamp Xinjiang, termasuk anak-anak.

Hal itu berbeda dari data perserikatan bangsa-bangsa (PBB) yang mengatakan, lebih dari satu juta etnis muslim Uighur yang berada di kamp pelatihan.

Ditambahnnya, 90 persen masjid di Turkistan Timur saat ini telah rata dengan tanah karena dihancurkan. Jika pun ada masjid yang kokoh berdiri, hal itu sengaja dilakukan Pemerintah China untuk memperbaiki citra di mata negara lain.

"Hanya sedikit sekali masjid boleh berdiri, hanya untuk menutupi kenyataan sebenarnya," tudingnya.

Amnesty Internasional juga membenarkan bahwa pengakuan Jalilova sama seperti pernyataan para muslim Uighur yang telah keluar dari kamp dan anggota keluarga yang salah satu keluarganya ditahan di kamp.

"Apa yang terjadi bagi muslim Uighur di Xianjang merupakan persoalan hak asasi manusia (HAM) dan terekam di Amnesty Internasional," ujar tim komunikasi dari Amnesty Internasional, Chairil Halim. ***

R24/wan