Menu

Konservasi Sastra, Pusat dan Daerah Harus Sinergi

Elvi 23 Apr 2019, 19:03
Kepala Subpelindungan Sastra Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan, Deni Setiawan, SS. dalam acara diskusi terbatas/IST
Kepala Subpelindungan Sastra Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan, Deni Setiawan, SS. dalam acara diskusi terbatas/IST

Sebab, kata Deni, konservasi dan revitalisasi adalah soal mengubah perilaku dari yang tidak biasa menjadi tradisi, hingga akhirnya menjadi budaya suatu masyarakat. Deni mencontohkan program kawin campur yang dikhatirkan akan “membunuh” bahasa ibu dalam keluarga. “Malahan, program kawin campur sebuah keluarga yang berlatar belakang bahasa daerah berbada, akan melahirkan generasi (anak) yang mengerti dua bahasa ibu dan menguasai bahasa Indonesia sebagai pemersatu dalam keluarga tersebut,” terang Deni.

Sementara itu, Kepala Balai Bahasa Riau, Drs, Umar Solikhan, M.Hum. dalam materinya menyampaikan pentingnya upaya konservasi dan revitalisasi bahasa dan sastra, manuskrip, dan sastra cetak sebagai kekayaan budaya yang dimiliki Kabupaten Kampar. “Hasilnya baru nanti. Tidak hanya betujuan lestarinya sebuah tradisi lisan, akan tetapi upaya konservasi dan revitalisasi bisa dinikmati untuk tujuan pariwisata.

“Tiga tahun terkahir, kata Umar, Balai Bahasa Riau sudah melakukan revitalisasi Basisombou di daerah Tapung, Kab.Kampar, Kajian Vitalitas Nyanyian Pengantar Tidur Onduo di Rohul, Baghandu di Kampar, dan Dodoi di Siak. Tahun ini, Konservasi Pantun Otui(pantun seratus) dan Pantun Ugam, Sastra Cetak, dan Manuskrip di Kampar.

Hadir dalam diskusi tersebut, Kepala Disparbud Kampar yang diwakili oleh Sekretaris Dinas Heri Susanto. Dalam paparannya Heri menekankan pentingnya upaya pelestarian dengan program konservasi dan revitalisasi sastra lisan, manuskrip, dan sastra cetak sebagai khasanah kekayaan dari Kampar. “Untuk sastra lisan, ada bebeberapa kekayaan budaya Kampar yang sudah diakui negara dan mendapat penghargaan Warisan Budaya Tak Benda (WBTB), yaitu silat perisai, batubara,  rumah lontiok dan basijobang (buwuong gasiong).

Heri menyambut baik uapaya Badan Pengambangan Bahasa dan Perbukuan melestarikan budaya Kampar melalui upaya konservasi dan revitalisasi. Dirinya mengakui bahwa sadar budaya masih belum maksimal diperhatikan pemerintah daerah. Padahal, tradisi lisan merupakan kekayaan budaya yang bisa dijual dalam dunia pariwisata. Kami juga menghimbau masyarakat untuk sadar bahasa dan sastra.

Diakhir acara Heri menyampaikan pesan Kadis Parbud soal rekomendasi diskusi yang nantinya bisa diharapkan berguna menyusunan rencana kerja tahun 2020 dan berharap bisa teranggarkan dalam APBD Kampar.

Halaman: 123Lihat Semua