Menu

Merasa Terlalu Jauh Adu Lisan, Ferdinand Hutahaean: Saya Mau Tafakur

Riki Ariyanto 11 Jun 2019, 14:46
Ferdinand Hutahaean, politisi Partai Demokrat (foto/int)
Ferdinand Hutahaean, politisi Partai Demokrat (foto/int)

RIAU24.COM - Selasa 11 Juni 2019, Politisi Partai Demokrat, Fe4dinand Hutahaean memilih untuk tidak terlalu banyak bahas politik. Terutama terkait nasib koalisi Demokrat dengan BPN Adil Makmur Prabowo-Sandi.

Hal itu disampaikan Ferdinand Hutahaean lewat akun twitter resminya. "Sudah terlalu jauh berbantah lisan karena akun2 provokatif didengar olh yg tak dapat sumber info akurat. Saya cukupkan mendebat kalian yg tak punya sumber info. Amati, cermati, coba 3 hari ini perbanyak mendengar, spy tau fakta sesungguhnya," cuit @FerdinandHaean2.

"Saya mau diam dulu, tafakur, mendengar, melihat, mencermati. Apapun itu, bangsa ini lebih penting diatas segalanya!" tutup @FerdinandHaean2.

Seperti biasa kicauan @FerdinandHaean2 itu langsung ramai dikomentari netizen atau warganet. @djonprasetyanto: "Saya setuju bang. Mending diam ,kecuali bicara yg baik ,karena dari awal saya suka Abang tapi akhir ini tensinya agak tinggi, lepas bener salah, tahan diri lebih baik bang."

@DenySet70032741: "Sepakat gk bos, kalo yang namanya kecurangan harus di ungkap tuntas, jika anda memang mementingkan bangsa, bersatulah dengan yang benar."

@aldhiesaja: "Setuju Bro, diam dulu aja. Istirahat, tidur terus gak usah bangun2 lagi. Percuma kalau hidup juga cuma membuat gaduh."

@sigitklh1: "Dengan cara loncat ke kubu sebelah apakah bisa di anggap bangsa lebih penting, mending jd oposisi bisa mengerem kebijakan yg mresesahkan rakyat."

@Karinbahary2: "Kalo bangsa ini lebih penting daripada sgalanya kenapa. Anda lebih memilih perpecahan. Ktimbang persatuan Saya sering kali bilang Berada di barisan 02 jngn krna pak prabowo tapi berjuanglah demi rakyat Tpi anda lebih memilih mundur lalu apa yg bisa kami harapkan dari anda Skrng."

@cepkamalbluesky: "Lah itu Lo tau, kenapa baku hantam Mulu dengan 02, lebih baik keritisi noh kebijakan kebijakan yang tidak pro rakyat dan keritisi noh kebijakan kebijakan yang mengancam kedaulatan negeri, telat mikir Lo malu maluin."