Menu

Pilih Bergabung, Partai Berkarya tak Ingin PKS Jadi Oposisi Sendirian

Siswandi 19 Nov 2019, 23:31
Presiden PKS Sohibul Iman bersama Ketua Umum Partai Berkarya, Tommy Soeharto. Foto: int
Presiden PKS Sohibul Iman bersama Ketua Umum Partai Berkarya, Tommy Soeharto. Foto: int

RIAU24.COM -  Partai Keadilan Sejahtera (PKS) tampaknya tak akan berdiri sendirian sebagai oposisi. Hal itu setelah Partai Berkarya juga menyatakan memilih berada di luar gerbong pemerintahan.

Hal itu dilontarkan Ketua Umum Partai Berkarya, Hutomo Mandala Putra atau yang lebih dikenal dengan panggilan Tommy Soeharto, saat menyampaikan keterangan pers di kantor DPP PKS, Jalan TB Simatupang, Jakarta Selatan, Selasa 19 November 2019. Keterangan itu disampaikannya setelah bertemu dengan Presiden PKS, Sohibul Iman dan jajaran.

Dikatakan, oposisi sedianya tak dikenal dalam sistem pemerintahan di Indonesia. Namun Berkarya memilih berada di luar gerbong pemerintah. Pihaknya juga akan akan mengambil sikap yang sejatinya berpihak pada rakyat.

"Apa kebijakan yang baik untuk rakyat, kami akan dukung. Itu yang kami akan lakukan kesempatan ke depan. Dan tentunya antara PKS dan Berkarya adalah kerja sama pilkada, gimana pilkada bisa kita sinergikan, dan kita kerja sama erat di antara kedua partai," terangnya, dilansir viva.

Sementara itu, Sekjen Partai Berkarya Priyo Budi Santoso mengatakan, demokrasi akan berjalan baik manakala ada partai yang menjalankan fungsi pengawasan.

Pihaknya tak ingin PKS berjuang sendiri dalam lima tahun ke depan mengawal pemerintahan.

"Sudah tentu kami tidak ingin biarkan PKS sendirian dalam situasi perpolitikan yang sekarang ini," kata dia.

Dikatakan, kedatangan pihaknya ke kubu PKS, terlebih dulu dibangun partai lain lantaran kesamaan pandangan.

Ketika hampir semua partai berniat gabung dengan kekuasaan, justru partai pimpinan Sohibul Iman itu tegas sejak awal menjadi partai penyeimbang pemerintahan Joko Widodo-Ma’ruf Amin.

"Biarlah nanti muncul gagasan-gagasan alternatif untuk kebaikan bangsa, dan kualitas demokrasi ke depan. Kita tidak boleh membiarkan demokrasi kita ambruk hanya karena banyak orang berduyun-duyun menuju kekuasaan," ujarnya. ***