Gara-gara Mahathir Muhammad Kritik Soal UU Anti Islam, Importir CPO India Hentikan Impor dari Malaysia

Selasa, 14 Januari 2020 | 09:25 WIB
Pabrik pengolahan CPO Pabrik pengolahan CPO

RIAU24.COM -  Petani sawit Malaysia ketar-ketir menyusul rencana importir minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) India dikabarkan menghentikan semua pemesanan dari pemasok utama Malaysia. Penghentian impor ini dilakukan karena pemerintah India mendesak importir memboikot komoditas tersebut dari Malaysia sebagai dampak konflik diplomatik kedua negara.

Hal itu diungkapkan sumber dari pelaku industri dan pemerintah India sebagaimana dikutip CNBC Indonesia dari Reuters, Senin malam (13/1/2020).

Baca Juga: Puncak HUT bank bjb ke-61: Launching New Experience DIGI by bank bjb Menuju Superapps, Hingga Berbagai Hiburan

Peringatan yang dikeluarkan sejak pekan lalu ini muncul bersamaan dengan langkah New Delhi membatasi impor minyak sawit dan olein sawit (palm olein) setelah Perdana Menteri (PM) Malaysia Mahathir Mohamad mengkritik tindakan India yang menginvasi Kashmir dan undang-undang kewarganegaraan India yang baru.

Akibat kritikan Mahathir ini, para importir India tidak membeli minyak mentah atau minyak kelapa sawit olahan dari Malaysia, seperti diungkapkan lima sumber industri sawit yang akrab dengan masalah tersebut, kepada Reuters.

"Secara resmi tidak ada larangan impor minyak sawit mentah dari Malaysia, tetapi tidak ada yang membeli karena instruksi pemerintah," kata seorang sumber dari pelaku kilang terkemuka di sana. Sumber tersebut menambahkan bahwa para pembeli kini mengimpor dari Indonesia meskipun membayar harga premium di Malaysia.

Baca Juga: 250 Ribu Pekerja Industri Berlian Terancam Kehilangan Pekerjaan Di Tengah Perang Ukraina-Rusia

India adalah importir minyak kelapa sawit terbesar di dunia, membeli lebih dari 9 juta ton per tahun terutama dari Indonesia dan Malaysia.

Dengan larangan impor minyak sawit olahan tersebut, maka produk minyak sawit mentah Malaysia harus bersaing dengan CPO Indonesia. Ada potensi terjadi perang harga mengingat harga CPO Indonesia masih lebih kompetitif.***

PenulisR24/saut


Loading...

Terpopuler

Loading...