Menu

Masjid di Yaman Diserang Pakai Rudal, 80 Tentara Yaman Yang Sedang Shalat Tewas

Satria Utama 20 Jan 2020, 08:59
Kelompok pemberontak Houthi
Kelompok pemberontak Houthi

RIAU24.COM -  JAKARTA - Sebanyak 80 orang pasukan Yaman dilaporkan tewas akibat serangan yang diduga dilakukan kelompok pemberontak Houthi pada Sabtu (19/1) pekan lalu di Provinsi Marib. Menurut laporan Utusan Khusus Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Yaman, 130 serdadu juga luka-luka dalam kejadian tersebut.

Seperti dilansir CNN, Senin (20/1), serangan itu dilakukan dengan menggunakan rudal balistik dan pesawat nirawak (drone). Ironisnya, mereka diserang ketika sedang menunaikan salat di masjid.

Menurut Kementerian Pertahanan Yaman, serangan tersebut ditujukan untuk membalas dendam atas kematian seorang jenderal Iran, Qasem Soleimani, yang tewas dalam serangan roket oleh pesawat nirawak AS pada 3 Januari lalu. Akan tetapi, mereka tidak memberikan bukti tuduhan tersebut.

Iran dilaporkan mendukung kelompok pemberontak Houthi. Sedangkan Presiden Yaman, Abdu Rabu Mansur Hadi, yang saat lari ke Arab Saudi untuk meminta perlindungan.

Menurut Hadi, serangan tersebut menunjukkan pemberontak Houthi pengecut dan layak disebut teroris. Kemenhan Yaman mengklaim pasukan mereka akan tetap kuat untuk melawan ambisi Iran untuk menggoyang stabilitas Yaman dan kawasan Timur Tengah.

Hingga berita ini diturunkan, pemberontak Houthi belum memberikan pernyataan pertanggungjawaban atas serangan tersebut.

Perang saudara di Yaman sudah memanas sejak beberapa tahun belakangan. Saudi mulai ikut campur sejak 2015, ketika Hadi terpaksa kabur setelah Houthi menduduki Istana Kepresidenan di Sanaa. Konflik ini pun disebut-sebut sebagai perang pion antara Saudi dan Iran di Timur Tengah karena sejumlah pihak menuding Teheran menyokong pergerakan Houthi.

Di sisi lain, perang itu membuat puluhan ribu rakyat Yaman meninggal akibat perang, kelaparan dan terjangkit wabah kolera sampai hari ini. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) bahkan menganggap konflik yang telah berjalan selama empat tahun ini sebagai krisis kemanusiaan terburuk sepanjang sejarah.***