Menu

Kisah Inspiratif, Pria Ini Pernah Tekor Hingga Rp25,3 Triliun Hanya Dalam Semalam, Kini Kembali Tajir

Siswandi 16 Mar 2020, 14:04
Andrew Rickman
Andrew Rickman

RIAU24.COM -  Pionir teknologi asal Inggris, Andrew Rickman, pernah menikmati bagaimana rasanya jadi orang kaya raya dan bergelimang harta. Hal itu setelah ia meraih sukses bersama perusahaan yang didirikannya, Bookham Technology. Pada tahun 2000 lalu, perusahaan itu pun masuk bursa dan nilai sahamnya ditaksir sekitar mencapai £1,5 miliar atau hampir setara Rp28 triliun.

Nilai perusahaannya melesat seiring dengan meningatkatnya jumlah pemakai internet dan telepon genggam pada masa itu. Rickman sendiri, diketahui sebagai adalah pemegang saham mayoritas di perusahaan tersebut.

Seiring dengan kesuksesannya itu, media pun kerap memberitakannya secara besar-besaran dan menyebutnya sebagai miliarder teknologi pertama Inggris. Meski Rickman mengaku dirinya adalah sosok yang sederhana, namun pengakuannya itu tak membuat media di Inggris, berhentik membanding-bandingkan dirinya dengan pesohor lain.

Saking kayanya, media setempat menyebutkan, kekayaan Rickman pun akan mampu disamai, jika kekayaan Ratu Elizabeth dan musisi Sir Paul McCartney digabung menjadi satu.  

Ambruk 
Nasib sial menghapiri Rickman, ketika era kejayaan dotcom tiba-tiba berakhir. Hal itu membuat ilai saham perusahaannya langsung anjlok. Akibatnya, ia kehilangan US$1,8 miliar (setara dengan Rp25,3 triliun) hanya dalam waktu satu malam !.

"Rasanya seperti hidup di musim dingin yang berkepanjangan setelah perang nuklir," kenang Rickman, dilansir viva yang merangkum bbcindonesia, Senin 16 Maret 2020. 

Rickman mengakui, ketika itu kehidupannya memang menjadi sangat sulit. Namun ketika itu, bukan uang yang ia pikirkan.

"Jumlah uang (yang saya miliki) kan hanya deretan angka-angka di atas kertas. Saya juga tak masalah kehilangan predikat sebagai miliarder dotcom pertama di Inggris," ungkapnya. 

"Yang sulit adalah menghadapi dampak terpuruknya era dotcom ini bagi perusahaan dan sektor teknologi," ujarnya lagi. 

Untuk diketahui, produk yang dihasilkan Bookham tergolong canggih. Perusahaan yang didirikannya pada tahun 1988 ini memasok komponen optik bagi industri komputer dan telekomunikasi. Dengan teknologi yang dikembangkannya, memungkinkan transfer data secara cepat dengan menggunakan laser dan serat kaca.

Namun teknologi ini punya satu kekurangan, karena harga produknya mahal.

Ketika dotcom ambruk, konsumen Rickman, yang umumnya adalah perusahaan-perusahaan yang membangun jaringan baru, beralih memakai produk dan teknologi yang lebih murah dan lebih sederhana.

Bangkit Lagi 

Untunglah, ketika itu Rickman masih punya tabungan £50 juta. Bermodal uang tabungan ini, ia membangun lagi Bookham, perusahaan yang ia dirikan di dapur rumahnya di Wiltshire saat ia berusia 28 tahun.

Ia mencabut perusahaan dari bursa dan memindahkan kantor dari Inggris ke Silicon Valley di Amerika Serikat. Tujuannya, supaya bisa lebih dekat ke konsumen sekaligus menekan biaya produksi, sehingga produknya lebih kompetitif dari sisi harga.

Bookham akhirnya bisa bangkit. Pada 2004 Rickman meninggalkan perusahaan untuk menjalani karier baru sebagai investor teknologi. 

Sekitar sepuluh tahun kemudian ia mendirikan Rockley Photonics di Oxford, Inggris, yang menghasilkan cip fotonik silicon yang digambarkan sebagai generasi baru cip mikro. Kelebihan cip fotonik silicon, di antaranya bisa memproses lebih banyak data secara lebih cepat.

Saat ini, produk itu semakin banyak dipakai di berbagai pusat data, sistem sensor kendaraan swakemudi hingga telepon genggam keluaran terbaru.

Rickman mengatakan penghasilan Rockey saat ini "puluhan juta pound" per tahun namun berpotensi "naik menjadi miliaran" per tahun.

Seperti kata pepatah pengalaman adalah guru yang berharga, hal itu juga dicamkan Rickman. Ia mengaku belajar banyak dari keguncangan yang diakibatkan runtuhnya dotcom.

Untuk perusahaannya yang sekarang, Rickman membentuk tim yang menganalisis lingkungan tempat ia menjalankan bisnis. Tim ini berfungsi seperti alat yang bisa memberi peringatan tentang apa yang mungkin akan terjadi. Tak hanya itu, tim juga bertugas memantau apa saja tren-tren di bidang teknologi, yang diperkirakan bakal booming di pasaran. 
Sehingga, tim ini memiliki dua fungsi utama. Yakni mencegah terjadi kebangkrutan, sekaligus menggali potensi yang bisa mendatangkan keuntungan besar. Wah! ***