Menu

Wabah Virus Corona di Amerika Serikat Sudah Gawat dan Kalahkan China, Donald Trump Malah Bilang Begini

Siswandi 27 Mar 2020, 10:47
Presiden Donald Trump (kanan) memberikan keterangan terkait perkembangan virus Corona di negeri Paman Sam tersebut. Foto: int
Presiden Donald Trump (kanan) memberikan keterangan terkait perkembangan virus Corona di negeri Paman Sam tersebut. Foto: int

RIAU24.COM -  Amerika Serikat kini telah menjelma menjadi negara dengan kasus virus Corona terbanyak di dunia. Bahkan melebihi China yang merupakan asal muasal virus mematikan ini bermula. Saat ini, setidaknya ada 82.404 orang di AS yang dinyatakan positif Covid-19. 

Merujuk data Universitas Johns Hopkins, AS melampaui China dan Italia untuk temuan kasus Corona terbanyak, di mana kedua negara itu sebelumnya dinyatakan sebagai pusat pandemi virus Corona. Untuk diketahui, di China, tercatat ada 81.782 kasus. Sedangkan di Italia tercatat ada 80.589 kasus. 

Namun untuk angka kematian, sejauh ini AS masih beada di bawah China. Di Negeri Paman Sam, korban meninggal akibat virus Corona tercatat sebanyak 1.200 kasus. Angka itu masih jauh di bawah China dengan 3.291 kasus. Sedangkan di Italia angkanya jauh lebih tinggi yakni 8.215 kasus.

Dilansir viva yang merangkum bbcnewsindonesia, Jumat 27 Maret 2020, Presiden Donald Trump masih berkilah terkait kondisi itu. 

Dalam konferensi pers di Gedung Putih, Washington, Kamis (26/3/2020) waktu setempat, ketika ditanya tentang kondisi AS yang sudah menyalip China dalam hal kasus virus corona terbanyak, Trump meragukan angka yang dirilis Beijing. Ia lalu  mengatakan kepada wartawan: "Anda tidak tahu jumlahnya di China".

Namun demikian, Trump mengatakan dia akan berbicara dengan Presiden Xi Jinping melalui telpon pada Kamis malam waktu setempat.

Dalam kesempatan itu, Trump juga sempat meramalkan negaranya akan kembali bekerja "cukup cepat". Hal itu setelah pihaknya melaporkan adanya 3,3 juta warga yang mengajukan tunjangan pengangguran pekan lalu.

"Mereka harus kembali bekerja, negara kita harus kembali, negara kita didasarkan pada itu dan saya pikir itu akan terjadi dengan cepat," ujarnya.

"Kita dapat memanfaatkan bagian dari negara kita, kita mungkin mengambil bagian besar dari negara kita yang tidak begitu terdampak dan kita dapat melakukannya dengan cara itu," tambahnya. 

"Banyak orang yang salah mengartikan ketika saya mengatakan kembali, mereka akan mempraktikan jarak sosial sebanyak yang Anda bisa dan mencuci tangan serta tidak menjabat tangan dan semua hal yang kita bicarakan," ujarnya lagi. 

Namun pertanyaannya, bisakah Presiden Trump memerintahkan semua orang kembali bekerja? 

Faktanya tidak. Awal bulan ini, Trump menetapkan periode 15 hari untuk memperlambat penyebaran virus Corona dengan mendesak semua orang Amerika untuk mengurangi interaksi publik secara drastis selama periode tersebut.

Namun imbauan ini bersifat sukarela dan tidak ada kewajiban untuk melakukannya.

Padahal, dalam konstitusi AS jelas bahwa pemerintah memiliki wewenang untuk menjaga ketertiban dan keamanan publik, yang menurut para pakar adalah tanggung jawab gubernur negara bagian untuk memutuskan pembatasan terkait penyebaran virus.

Saat ini, 21 negara bagian AS telah memerintahkan warganya untuk tinggal di rumah mereka untuk mengatasi pandemi. ***