Menu

Kenangan Tersisa dari Jenderal Pramono Edhie, Libas Kongkalikong Seputar Tank Leopard

Siswandi 14 Jun 2020, 15:57
Ilustrasi
Ilustrasi

RIAU24.COM -  Semasa hidupnya, mantan KSAD Jenderal Pramono Edhie Wibowo dikenal keras dan lurus serta berintegritas.

Hal itu tampak dengan jelas
saat ia memutuskan pembelian main battle tank (MBT) Leopard dari Jerman.

Ketika itu, sang jenderal menolak pembelian alat perang itu bila menggunakan broker. Sebuah keputusan yang dinilai berani dan hingga kini masih dikenang banyak pihak.

Tentu saja, kebijakan itu diambil berdasarkan pertimbangan yang matang.

Semula, bila mengikuti penawaran sejumlah agen atau broker yang biasa terlibat dalam pembelian persenjataan, TNI AD hanya akan mendapatkan 40 buah tank.

Tapi, karena sang Jenderal tak bersedia mengikuti skenario mereka dan membelinya langsung ke negara produsen, jumlah tank yang bisa dibeli bisa lebih banyak.

"Kerugiannya bisa lebih dari 30 persen, karena itu Pak Pramono Edhie ingin mengubah kebiasaan membeli alutsista dari agen," tulis Rajab Ritonga dalam bukunya, 'Pramono Edhie Prabowo dan Cetak Biru Indonesia ke Depan'.

DilansIr detik Minggu 14 Juni 2020, untuk menghindari para agen atau broker yang menawarkan harga lebih mahal, Pramono Edhie mengutus Wakil KSAD Letjen Budiman ke pabrik Leopard di Jerman.

Dari kunjungan itu disepakati bahwa pembelian langsung tanpa pihak ketiga.

Langkah itu juga ternyata tak berjalan mulus. Pasalnya, belakangan muncul narasi yang berkembang di tengah masyarakat, yang menyebutkan pembelian Leopard seolah-olah keliru dan tak sesuai dengan kondisi alam di Indonesia.

Sejumlah jembatan di tanah air yang dilintasi tank berbobot 60 ton akan ambrol. Tank itu juga tak akan mampu bermanuver dengan maksimal dengan medan di Indonesia yang berbukit-bukit. Tank Lepoard disebut lebih cocok untuk negara-negara timur tengah yang medannya berpasir.

Tapi Pramono Edhi pantang surut. Bagi mantan Pangkostrad itu, keberadaan alutsista canggih sekelas Leopard akan menimbulkan daya tangkal (deterrence) bagi pihak lain.

Apalagi faktanya, negara-negara yang kondisi alamnya mirip dengan Indonesia juga melengkapi tentaranya dengan MBT. Malaysia, misalnya, disokong 48 PT-91M buatan Polandia, dan Singapura sejak 2007 sudah memiliki hampir seratus Leopard jenis lain.

"Kami bukan ingin bersaing, tapi hanya ingin menyamakan dengan teknologi persenjataan milik negara-negara tetangga. Jadi kalau kami latihan, sekelas (dengan mereka)," kata Pramono Edhi di hadapan Komisi I DPR RI.

"Kami bukan ingin bersaing, tapi hanya ingin menyamakan dengan teknologi persenjataan milik negara-negara tetangga. Jadi kalau kami latihan, sekelas (dengan mereka)," tambahnya.

Belakangan, apa yang dikhawatirkan itu ternyata tak terbukti. Jembatan yang dilalui tank itu nyatanya aman-aman saja.

Pramono Edhie Wibowo pensiun pada 2013, dan kemudian terjun ke dunia politik. Pramono menjadi salah satu peserta konvensi calon presiden yang diadakan Partai Demokrat.

Pramono Edhie berpulang pada Sabtu malam (13/6/2020) di RS Cimacan karena sakit Jantung. ***