Menu

Tegas, Pembelot Cantik Asal Korea Utara Ini Tegaskan Dirinya tak Takut Diburu Agen Kim Jong Un

Siswandi 8 Jul 2020, 13:13
Park Yeon Mi yang mengaku tak gentar diburu agen Korut. Foto: int
Park Yeon Mi yang mengaku tak gentar diburu agen Korut. Foto: int

RIAU24.COM -  Kisah tentang para pembelot asal Korea Utara yang kini bermukim di Korea Selatan, sebenarnya bukanlah sesuatu yang baru. Namun keberadaan mereka, kembali menjadi hangat dibicarakan dan disorot. Hal itu setelah pemerintah Korut memberikan reaksi keras kepada Korsel. 

Reaksi itu muncul, karena penguasa Kim Jong Un meresa kesal dengan ulah mereka yang membagi-bagikan selebaran di kawasan perbatasan kedua negara, yang isinya memberikan gambaran tentang sepak terjang rezim penguasa Korut. Masalahnya, Korut kemudian menuding Korsel berada di balik para pembelot itu, sehingga hubungan antara kedua negara kembali memanas. Buntutnya, keberadaan para pembelot yang kini bermukim di Korsel, dikabarkan mulai terancam. 

Yang terbaru Polisi Korea Selatan, di bawah perintah Presiden Moon Jae-in, menangkap dua lelaki bersaudara yang diyakini bertanggung jawab atas pengiriman selebaran anti-Kim Jong-un di utara perbatasan. Penangkapan itu  telah menimbulkan pertanyaan apakah para pembelot Korut aman di Korea Selatan dan apakah mereka akan dapat menyuarakan keprihatinan dan pertanggungjawaban rezim Kim Jong-un.

Dilansir sindonews yang melansir dateline, meski upaya Korut telah begitu jauh, namun kebanyakan pembelot mengaku tak takut. Bahkan meski jiwa mereka terancam. 

Salah satunya dilontarkan Park Yeon Mi, pembelot yang berparas cantik ini. Ia dengan terang-terangan  mengaku tidak takut jika dia dibunuh oleh agen dari negara asalnya. Yeon Mi mengaku telah diingatkan seorang detektif bahwa dia dalam bahaya dan harus menarik kembali pernyataannya tentang Korut, atau bersembunyi.

Untuk diketahui, gadis cantik ini telah kabur dari Korut ketika masih berusia 16 tahun. Setelah dua tahun bersembunyi di China, ia akhirnya bisa mencapai Korea Selatan. Saat ini, Yeon MI telah menjadi bintang televisi dan jurnalis dan menggunakan platform-nya untuk mengecam rezim Kim Jong-un. Dia juga dikenal sebagai aktivis hak asasi manusia (HAM).

Sang pembelot mengaku telah menerima ancaman pembunuhan dan diperingatkan bahwa nyawanya berisiko karena pengungkapannya yang jujur sejak pindah ke Korea Selatan.

"Detektif saya baru saja mengatakan kepada saya; 'Serius, Anda dalam bahaya dan Anda harus mengubah semua informasi Anda'," kata Park yang disarankan menyembunyikan identitasnya.

"Tapi saya bilang tidak karena nama saya, Park Yeon Mi, adalah warisan saya dari ayah saya, ini satu-satunya yang dia tinggalkan untuk saya," ujarnya.

"Saya sangat bangga dengan nama saya jadi itu sebabnya jika saya mati saya baik-baik saja...Maksud saya, saya sudah mengalami kebebasan ini jadi saya puas."

"Setidaknya saya bisa mengatakan bahwa saya melakukan sesuatu untuk Anda, orang-orang saya di Korea Utara," paparnya, dilansir express.co.uk.

Keluarga Park Yeon-mi meninggalkan negara asalnya setelah ayahnya dihukum oleh pemerintah karena dinilai tak taat. Keluarga Pakr menyuap pejabat di dekat perbatasan dan bersembunyi di China sebelum mereka berjalan melintasi gurun Gobi untuk mencapai kedutaan Korea Selatan di Mongolia.

Tragisnya, dalam perjalanan menuju Korsel, sang ayah meninggal di tengah jalan. Yeon Mi mengaku harus menggali kuburan ayahnya sendiri. Sejak saat itulah, momen itu mendorongnya untuk berbicara menentang rezim Kim Jong Un.

"Ketika saya melihat kematian ayah saya, itu (seperti) bukan manusia, dia lebih baik daripada binatang dan saya tidak ingin akhir hidup saya seperti itu," tandasnya. ***