Menu

Barcelona Memang Layak Dikalahkan Bayern Munchen, Ini 5 Alasannya

Riko 15 Aug 2020, 15:29
Foto (internet)
Foto (internet)

RIAU24.COM Bayern Munchen menorehkan rekor mengesankan berkat kemenangan 8-2 atas Barcelona dalam partai perempat final Liga Champions 2019/20, Sabtu 15 Agustus 2020 dini hari WIB.

Selain itu, kemenangan 8-2 juga menyamai rekor kemenangan agregat terbesar dalam perempat final Liga Champions yang ditorehkan Real Madrid melawan APOEL.

Bedanya, Bayern Munchen kali ini mencatatkan kemenangan telak ini dengan hanya butuh satu pertandingan.

Buat Barcelona kekalahan telak ini jelas sebuah aib. Mereka baru saja gagal mempetahankan gelar domestik La Liga Spanyol. Musim lalu mereka juga gagal melaju ke final Liga Champions, usai menderita kekalahan menyakitkan 0-4 melawan Liverpool yang akhirnya menjadi juara.

Jika menilai secara objektif, Barcelona memang pantas kalah melawan Bayern Munchen. Fakta-fakta di bawah ini menegaskan begitu menderitanya Tim Catalan sebagaimana mengutip dari Bola. net. 

1. Bayern yang Luar Biasa dengan Kelemahan Kecil

Sulit menemukan cela di tim yang baru saja menggelontor delapan gol Barcelona yang dipimpin superstar Lionel Messi. Namun, kelemahan kecil bisa jadi catatan bagi Bayern Munchen ke depannya.

Mereka kebobolan dua gol dengan cara yang sederhana. Tekanan tinggi yang dilakukan klub asal Jerman itu membuat mereka membiarkan diri mereka terbuka lebar di belakang dan sangat rentan menghadapi serbuan umpan-umpan panjang counter attack.

Dari empat bek Bayern Munich, hanya Jerome Boateng yang sudah tua yang bermain di posisi yang dianggap sebagai posisi aslinya. Sementara Kimmich tampaknya telah menyelesaikan transisi ke lini tengah, David Alaba adalah bek kiri dan Alphonso Davies dikontrak sebagai sayap kiri terbang.

Ini adalah bukti kualitas para pemain ini yang telah mereka lakukan sebaik yang mereka miliki sepanjang musim. Tapi dua gol yang kebobolan Bayern Munich malam ini akan menarik perhatian lawan masa depan sebagai jalan potensial untuk dieksploitasi.

Lepas dari hal tersebut, Bayern tampil luar biasa. Amat jarang ada tim yang bisa mengimbangi kedigdayaan penguasaan bola Barcelona. Mereka menunjukkan tak hanya Tim Catalan yang bisa memainkan Tiki-taka.

2. Strategi Barcelona yang Monoton Tingkat Dewa

Filosofi permainan sepak bola Barcelona legendaris dengan gaya operan berbasis penguasaan bola mereka telah memenangkan banyak gelar satu dekade terakhir.

Namun, dengan semakin banyak tim yang mencari cara untuk mengalahkan sistem yang mereka mainkan, pertanyaan muncul tentang ketidakmampuan tim Spanyol itu untuk bermain dengan cara lain.

Karena desakan mereka untuk bermain dari belakang membuat mereka mengalami kesulitan dan lagi melawan tim Bayern yang menekan.

Meski begitu, pasukan Quique Setien dengan terlihat tak punya kemampuan untuk mengubah pendekatan mereka meski gol demi gol terus tercipta ke gawang mereka.

Ini adalah pertama kalinya Barcelona kebobolan empat gol di babak pertama dalam pertandingan Liga Champions dan kedua kalinya dalam pertandingan Eropa mereka kebobolan lima gol dalam satu pertandingan.

Pada saat gol ke-8 Bayern Munchen tercipta, semakin mempertegas fakta bahwa pertahanan Barcelona sangat buruk. Mereka tidak punya jawaban atau solusi untuk menyelamatkan diri.

3. Faktor Usia Membuat Barcelona Melempem

Dengan rataaan usia 29 tahun plus 329 hari, Barcelona menurunkan starting eleven tertua mereka untuk pertandingan Liga Champions.

Gerard Pique, Sergio Busquets, dan Arturo Vidal pemain berpengalaman, namun usia ketiganya yang mulai uzur membuat mereka kalah kecepatan.

Hal ini dimanfaatkan benar oleh Bayern Munchen yang berani menekan Barcelona dengan permainan cepat. The Bavarians tidak membiarkan para pemain Barcelona kapan pun menguasai bola.

Berkaitan dengan usia, situasi berbeda terjadi di Bayern Munchen. Pemain-pemain veteran di klub tersebut sedang menikmati masa kejayaan. Robert Lewandowski yang berusia 31 tahun menjadi berita utama karena eksploitasi mencetak golnya musim ini, Thomas Muller yang berusia 30 tahun telah direvitalisasi di bawah asuhan Hansi Flick.

Setelah memecahkan rekor assist terbanyak dalam kampanye Bundesliga musim ini, Muller memecahkan rekor penampilan Liga Champions terbanyak khusus pemain Jerman. Dalam laga ini ia menyumbang dua gol.

Dikombinasikan dengan keterampilan dan kecepatan para pemain muda Bayern. Tim jawara Bundesliga Jerman itu tampaknya telah menemukan perpaduan ideal. Kombinasi tua dan muda Bavarian amat menyengat musim ini.

4. Lionel Messi Dipenjara

Meskipun Bayern Munich dianggap sebagai favorit menjelang pertandingan perempat final ini, Barcelona memang memiliki kartu as dalam wujud Lionel Messi.

Jerome Boateng dan Manuel Neuer pernah merasakan kedasyatan penyerang asal Argentina itu. Ia pemain ajaib yang bisa melakukan hal terduga buat tim yang dibelanya.

Namun masa Messi agaknya sudah berlalu. Ia tak mampu jadi juru selamat bagi Brugana.

Sepanjang laga melawan Bayern Munchen, Lionel Messi minim kontribusi. Ia dibatasi hanya bisa melakukan tembakan dari luar kotak penalti. Tak ada liu-liukan memesona sepanjang duel. Messi tampak frustrasi ketika dia menyaksikan timnya kebobolan gol demi gol tanpa melakukan comeback apa pun.

5. Penegasan Rapor Buruk Antoine Griezmann

Perempat final Liga Champions satu kaki melawan lawan terberat Anda dalam kompetisi ini, namun tampaknya menjadi kesempatan yang tepat untuk membalikkan musim suram.

Namun, bagi Barcelona dan Antoine Griezmann, sepertinya tidak berhasil sama sekali. Mantan pemain Atletico Madrid harus puas berada di bangku cadangan untuk pertemuan penting melawan Bayern Munhen ini.

Bahkan setelah diberikan kesempatan menjajal lapangan, Griezmann gagal menjadi sosok pembeda untuk lebih banyak memainkan peran di lini depan.

Permainan buruk ini menegaskan anggapan bahawa Barcelona salah membeli Antoine Griezmann. Ia bukan pemain depan yang dibutuhkan tim.