Normalisasi Arab-Israel Cuma Untungkan Trump dan Netanyahu, Iran Kecam Sikap Bahrain

Senin, 14 September 2020 | 05:59 WIB
Trump dan Netanyahu Trump dan Netanyahu

RIAU24.COM -  Wakil ketua Kelompok Fatah Palestina, Mahmoud al-Aloul, menuding normalisasi yang ditengahi Amerika Serikat (AS) antara negara-negara Arab dan Israel dimaksudkan untuk kepentingan politik Donald Trump dan Benjamin Netanyahu.

"Uni Emirat Arab (UEA) dan Bahrain menormalisasi hubungan mereka dengan Israel untuk mendukung kampanye pemilihan kembali Trump dan meningkatkan situasi politik internal Netanyahu," katanya.

Baca Juga: Puluhan Ribu Pendukung Oposisi Lakukan Aksi Demonstrasi di Ibu Kota Belarusia

Seperti dilansir Xinhua pada Senin (14/9/2020), Aloul lantas meminta Liga Arab untuk menghadapi gelombang normalisasi dengan Israel, mencatat mereka harus mematuhi keputusannya terkait dengan masalah Palestina. 

Seperti diketahui, Bahrain mengikuti jejak UEA untuk menormalisasi hubungan dengan Israel. Keputusan itu diambil setelah pembicaraan antara Trump, Netanyahu dan Raja Bahrain, Hamad bin Isa Al Khalifa pada hari Jumat lalu.

Bahrain dijadwalkan untuk menandatangani perjanjian normalisasi dengan Israel pada 15 September di Washington, di mana kesepakatan serupa antara UEA dan Israel juga akan ditandatangani. 

Dengan adanya keputusan ini, Bahrain menjadi negara Arab keempat yang menjalin hubungan diplomatik dengan Israel, setelah Mesir, Yordania, dan UEA. Mesir dan Yordania masing-masing menandatangani perjanjian perdamaian dengan Israel pada 1979 dan 1994.

Baca Juga: Corona di India Makin Menggila, lebih Seribu Orang Meninggal Dalam 24 Jam, Amerika Bakal Tersalip

Sementara itu, Iran menyatakan, Bahrain

akan membayar mahal keputusannya untuk melakukan normalisasi hubungan dengan Israel. Keputusan Bahrain untuk melakukan normalisasi hubungan dengan Israel diungkap dalam pernyataan bersama Tel Aviv, Manama, dan Washington.

Garda Revolusi Iran (IRGC) memperingatkan bahwa Bahrain dapat menghadapi balas dendam yang keras dari rakyatnya sendiri, bersama dengan Palestina, setelah memutuskan menormalisasi hubungan dengan Israel.

"Penguasa algojo Bahrain harus menunggu balas dendam keras dari Mujahidin (pejuang Islam) yang bertujuan untuk membebaskan Yerusalem," kata IRGC dalam sebuah pernyataan, seperti dilansir Sputnik pada Minggu (13/9/2020).***

PenulisR24/saut



Loading...
Loading...