Menu

Sering Diabaikan, Tiga Kebiasaan Ini Dapat Membawa Penyakit

Riko 18 Oct 2020, 18:28
Ilustrasi/int
Ilustrasi/int

RIAU24.COM -  Agama Islam mengatur seluruh aspek kehidupan para penganutnya. Urusan kesehatan juga tidak luput dari kajian agama yang dibawa Nabi Muhammad SAW ini. Bahkan setiap amalan yang diperintahkan, memiliki tujuan medis  menjaga kesehatan manusia. 

Namun manusia kerap mengabaikan hal-hal yang menjadi kebiasaan buruk yang dilarang agama. Padahal, tidak hanya penyakit fisik, kebiasaan-kebiasaan ini juga akan menimbulkan munculnya penyakit hati. Selain ancaman neraka, tiga kebiasaan ini juga akan  membawa penyakit. Apa saja, melansir dari Info yunik berikut ulasannya.

1. Banyak Makan

Banyak makan juga bisa menyebabkan banyak penyakit. Manusia dianjurkan untuk tidak terlalu kenyang, namun hanya sekedar makan untuk menegakkan punggungnya Jika tidak bisa, maka makanlah sepertiganya untuk makanan, sepertiganya untuk minuman, dan sepertiganya untuk napasnya.

Rosululloh sholallohu alaihi wasallam bersabda: ”Orang yang paling banyak kenyang di dunia adalah yang paling lama lapar di akhirat.” (HR Al Bazzar).

Al Imam Ash Shon’ani rohimahullohu berkata: ”Hadist ini menunjukan atas tercelanya banyak makan dan kenyang karena menimbulkan berbagai penyakit dan memberatkan seseorang untuk melaksanakan hukum syar’i/ ibadah.”

Dalam segi medis banyak makan bisa menimbulkan berbagai jenis penyakit seperti kegemukan, kolesterol tinggi, mudah lupa atau pikun. Tidak sedikit manusia yang meninggal dunia akibat berlebihan mengkonsumsi makanan.

2. Banyak Tidur

Banyak tidur juga akan membawa penyakit. Rasulullah SAW juga mengajarkan umatnya agar tidur sesuai kebutuhan dan tidak berlebih-lebihan.

Hal ini ditegaskan Allah SWT QS Adz-Szariyat : 17-18 yang artinya: “Di dunia mereka sedikit sekali tidur di waktu malam. Dan selalu memohonkan ampunan di waktu pagi sebelum fajar.” (QS Adz-Szariyat : 17-18).

Ternyata hal ini sudah teruji dengan penelitian dari Profesor Jim Horne dari Sleep Research Centre di University of Loughborough. Ia mengatakan dalam penelitiannya bahwa tidur lama justru lebih dapat mempersingkat masa hidup. Studi ini dilakukan kepada lebih dari satu juta orang. Terbukti mereka yang tidur lebih banyak lebih cepat alami kematian dibanding mereka yang tidur sedikit.

“Hai orang yang berselimut (Muhammad), bangunlah (untuk sembahyang) di malam hari, kecuali sedikit (daripadanya), (yaitu) seperduanya atau kurangilah dari seperdua itu sedikit atau lebih dari seperdua itu. Dan bacalah Al Qur’an itu dengan perlahan-lahan. Sesungguhnya Kami akan menurunkan kepadamu perkataan yang berat. Sesungguhnya bangun di waktu malam adalah lebih tepat (untuk khusyu’) dan bacaan di waktu itu lebih bereksan. Sesungguhnya kamu pada siang hari mempunyai urusan yang panjang (banyak).” (QS Al Muzzamil : 1-7)

3. Banyak Bicara

Ada ungkapan yang mengatakan bahwa lidah yang tidak bertulang akan lebih tajam dari pada pedang. Ya, ungkapan demikian memang benar. Lihat saja, berapa banyak permusuhan yang terjadi karena ucapan yang dikeluarkan oleh lidah. Lihat saja banyaknya peperangan yang terjadi hanya karena lisan. Banyak bicara merupakan sikap berlebihan yang paling banyak terjadi dan paling besar pengaruhnya.

 
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu berkata, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
 
“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaknya ia berkata yang baik atau diam.” [HR. Al-Bukhari dalam al-Adab hadits (6018) dan Muslim hadits (47).]

Nabi Muhammad SAW sangat kuatir umatnya terkena bahaya lidah, Ia selalu memperingatkan kita agar selalu menjaga hal itu.  Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda “Tidak ada yang melemparkan manusai ke neraka kecuali hasil yang dipetik dari lidah mereka.” [HR. Ibnu Majah dalam al-Fitan hadits (3973).

Abu Hatim bin Hibban Rahimahullah berkata: “Diantara kesalahan paling besar yang dapat merusak kesehatan jiwa dan merusak kebagusan hati, adalah banyak bicara walaupun perkataaan tersebut boleh dibicarakan. Seseorang tidak akan bisa memiliki sifat diam kecuali dengan meninggalkan perkataan yang boleh untuk dibicarakan.” [Raudhat al-‘Uqala’ wa nazhat al-Fudlala’, Ibnu Hibban hal. 48]