Berjuang Dapatkan Keadilan, Model Cantik Ini Ungkap Bagaimana Cara Ronaldo Lakukan Pelecehan Seksual Terhadap Dirinya

Rabu, 24 Februari 2021 | 09:34 WIB
Kathryn Mayorga dan Rinaldo Kathryn Mayorga dan Rinaldo

RIAU24.COM -  Seorang mantan guru dan model seksi Kathryn Mayorga masih terus berusaha mendapatkan keadilan setelah menjadi korban seks liar pemain bola Juventus, Cristiano Ronaldo. Kathryn mengaku diperkosa di Las Vegas 11 tahun lalu, saat Ronaldo masih berstatus pemain Manchester United.

Dilansir Daily Mail, Kathryn menceritakan, setelah bertemu Ronaldo di sebuah klub malam, dia diundang ke penthouse Ronaldo. Di sana, dia mendapatkan perlakukan yang tidak senonoh. Dia diajak untuk masuk ke bak mandi jacuzzi berisi air panas. Namun dia menolak karena tak mau merusak gaun cantiknya.  Ronaldo kemudian menawarkan dirinya untuk menukar gaun tersebut.

Saat sedang berganti pakaian, Ronaldo mendadak masuk lalu menggerayangi dirinya. Megabintang asal Portugal itu disebut memamerkan alat kelaminnya lalu meminta Kathryn  untuk melakukan seks oral.

Baca Juga: London Utara Bersinar, Bale Cetak Dua Gol, Tottenham Hotspur Bantai Burnley

“Dia mendorong saya dengan sangat kuat. Dan dia mulai melakukan ini-itu kepada saya, menyentuh bagian tubuh saya dan . Saya mendorongnya menjauh sembari terus berkata, tidak," ucapnya.

Kepolisian Las Vegas sempat menyelidiki insiden tersebut pada tahun 2009 tetapi menolak untuk mengajukan dakwaan. 

Pada tahun 2010, Ronaldo setuju untuk membayar Mayorga 375 ribu dollar sebagai imbalan atas pelepasan tuntutan hukumnya. 

Perjanjian tersebut juga menuntut kerahasiaan dan menginstruksikan bahwa perselisihan perjanjian harus diselesaikan di luar pengadilan, yaitu melalui arbitrase. Baik Ronaldo dan Mayorga diwakili oleh kuasa hukum.

Baca Juga: Arsenal Berhasil Buang Sial, Leicester City Jadi Korban dan Gagal Tikung MU

Di tahun 2018, Mayorga kembali menggugat Ronaldo. Dia menegaskan penyelesaian itu tidak dapat dilaksanakan. Pasalnya, dia tidak memiliki kapasitas hukum untuk menandatangani kontrak yang mengikat. 

Mayorga mengungkapkan, tekanan psikologis karena telah mengalami pelecehan seksual mencegahnya untuk memahami penyelesaian dan implikasinya.  Dia juga berpendapat bahwa pertimbangan kebijakan publik harus membatalkan penyelesaian dengan alasan menyembunyikan kekerasan seksual. 

 

Pada awal 2020, Hakim AS, Daniel Albregts, mengatakan kasusnya harus dibawa ke Hakim yang lebih tinggi. Kemudian, baru bisa diputuskan apakah gugatannya bisa dilakukan di sidang terbuka atau diselesaikan secara pribadi. 

 

Pada September 2020, Hakim Dorsey menolak sebagian rekomendasi Hakim Albregts. Kasus itu akan tetap dibawa ke sidang di hadapan hakim federal di Nevada

Pada awal Februari 2021, Daniel Albregts membuat rekomendasi tertulis soal penyelesaian kasus pemerkosaan itu. Dia memerintahkan kasus diselesaikan oleh mediator.

"Pengadilan menemukan bahwa tidak ada argumen (Mayorga) untuk membatalkan perjanjian arbitrase yang seharusnya, dan memaksa semua klaimnya untuk arbitrasi," tulis Albregts, dilansir Fox Sport.***

PenulisR24/saut



Loading...
Loading...