Menu

Pesawat Jatuh, Cara Pilot Ini Diacungi Jempol Usai Bertahan di Hutan Amazon 1 Bulan Lebih

Azhar 12 Apr 2021, 10:07
Ilustrasi. Foto: Internet
Ilustrasi. Foto: Internet

RIAU24.COM -  Antonio Sena, pilot asal Brazil menjadi buah bibir warga setempat lantaran mampu bertahan 38 hari di hutan Amazon.

Pesawat Cessna 210 bermesin tunggal yang ditumpanginya mendadak mati mesin dikutip dari okezone.com, Senin, 12 April 2021.

Ia lantas berpikir selama beberapa menit sambil mencari tempat paling memungkinkan untuk melakukan pendaratan darurat.

Beruntung ia berhasil selamat tanpa cedera sedikitpun. Naasnya ia malah terdampar di tengah hutan hujan terbesar di dunia itu selama sebulan lebih.

Dengan badan berlumuran bensin, ia mengambil apapun yang tampaknya berguna seperti ransel, tiga botol air, empat minuman ringan, sekarung roti, seutas tali, perlengkapan darurat, lentera, dan dua korek api.

Setelah berhasil turun secepat mungkin, pesawat itu meledak tiak lama kemudian. Peristiwa itu terjadi pada 28 Januari lalu. Ia mengatakan lima hari pertama di hutan, dia mendengar pesawat penerbangan penyelamatan di atas kepala, mencarinya.

Sayangnya penyelamat tidak dapat melihatnya karena pepohonan di hutan Amazon yang begitu lebat. Setelah itu, dia tidak mendengar lagi mesin, dan mengira mereka telah menyerahkannya untuk mati.

"Saya sangat terpukul. Saya pikir saya tidak akan pernah bisa keluar, bahwa saya akan mati," ujarnya.

Ia kemudian menggunakan ponselnya untuk melacak lokasi dengan GPS, dan memutuskan untuk berjalan ke arah timur, di mana dia melihat dua jalur udara.

Dia mengikuti matahari pagi untuk tetap di jalur, dan mencoba mengingat kembali materi kursus bertahan hidup yang pernah dipelajarinya.

"Ada air, tapi tidak ada makanan. Dan saya rentan terkena predator seperti jaguar, buaya, dan anaconda," ucapnya.

Selama berada dalam hutan, dia terpaksa makan buah yang sama seperti yang dimakan monyet, dan telur burung. Ia kemudian berjalan sejauh 28 kilometer. Pada hari ke-35, ia mendengar suara gergaji mesin.

Ia pun mulai berjalan ke arahnya, dan akhirnya sampai ke kamp pengumpul kacang Brazil. Para pekerja itu kemudian membantu Sena menghubungi ibunya untuk memberi tahu bahwa dia masih hidup.