Ini Penjelasan Kenapa Harga Sawit di Riau Kembali Turun, Penyebabnya....

Selasa, 15 Juni 2021 | 15:47 WIB
Kabid Pengolahan dan Pemasaran Dinas Perkebunan (Disbun) Riau, Defris Hatmaja Kabid Pengolahan dan Pemasaran Dinas Perkebunan (Disbun) Riau, Defris Hatmaja

RIAU24.COM - Dinas Perkebunan (Disbun) Riau mencatat jika harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit di Riau masih terjadi penurunan harga.

Kabid Pengolajan dam Pemasaran Disbun Riau, Defris Hatmaja menyebutkan, ada beberapa fakfor yang menyebabkan harga sawit di Riau menjadi turun, yakni faktor internal dan eksternal.

"Untuk faktor internal turunnya harga TBS periode ini disebabkan oleh terjadinya penurunan harga jual CPO dan kernel dari beberapa perusahaan yang menjadi sumber data," kata Defris, Selasa, 15 Juni 2021.

Disebutkannya, untuk harga jual CPO, PT. PTPN V mengalami penurunan harga sebesar Rp 225,57/Kg, PT. Sinar Mas Group mengalami penurunan harga sebesar Rp 281,70/Kg, PT. Astra Agro Lestari Group mengalami penurunan harga sebesar Rp 249,00/Kg, PT. Asian Agri Group mengalami penurunan harga sebesar Rp 279,97/Kg, PT. Citra Riau Sarana mengalami penurunan harga sebesar Rp 287,70/Kg, dari harga minggu lalu.

Baca Juga: 80 Titik Panas Bertebaran di Pulau Sumatera, BMKG: Riau Nihil Hotspot

Sedangkan untuk harga jual Kernel, PT. Astra Agro Lestari Group mengalami penurunan harga sebesar Rp. 272,72/Kg, PT. Asian Agri Group mengalami penurunan harga sebesar Rp. 300,00/Kg, PT. Citra Riau Sarana mengalami penurunan harga sebesar Rp. 210,77/Kg dari harga minggu lalu.

Sementara dari faktor eksternal, lanjut Defris, turunnya harga TBS minggu ini karena sepanjang minggu ini, harga CPO di Bursa Malaysia ambles 11,29% secara point-to-point.

"Harga komoditas ini kembali ke bawah MYR 4.000/ton. Harga CPO mencapai puncak pada 18 Mei 2021, nyaris di MYR 4.500/ton," kata dia lagi.

Baca Juga: Stok Vaksin Covid-19 Ada 300 Ribu Dosis, Gubernur Riau Minta Daerah Gesa Vaksinasi

Dia juga menyebutkan, penurunan Ini adalah rekor tertinggi sepanjang sejarah. Harga yang melesat hingga menembus rekor tertinggi, pelaku pasar tentu ingin mencari keuntungan. 

Selepas berada di titik tertinggi, katanya, harga mengalami tren penurunan yang tajam akibat tekanan jual. Sejak di puncak itu hingga akhir pekan ini, harga CPO melorot nyaris 18%. Harga turun karena pelaku pasar terus melakukan aksi jual.

"Selain hal tersebut diatas pasokan diperkirakan masih melimpah. Malaysian Palm Oil Board (MPOB) memperkirakan stok CPO Malaysia pada Mei 2021 naik 7,15% menjadi 841.464 to," tandas Defris.

PenulisR24/ibl


Loading...
Loading...