Menu

Mencari Sin Nio, Pahlawan Indonesia Berdarah Tionghoa yang Terlupakan

Devi 18 Oct 2021, 15:50
Foto : AsiaOne
Foto : AsiaOne

Pengorbanannya tak terbayar

Setelah perang, Sin Nio berusaha menjalani kehidupan yang nyaman hingga usia tuanya. Tapi hidupnya penuh gejolak; dia memiliki enam anak dari dua pernikahan yang gagal, namun kebanyakan hidup sendiri sebagai seorang janda. Di tengah kesepiannya, dia sering bertanya-tanya apa yang telah dia lakukan sehingga pantas mendapatkan nasib tragis seperti itu.

Sin Nio terbang ke Jakarta pada tahun 1973 untuk mengesahkan statusnya sebagai veteran perang, yang akan memberinya akses ke tunjangan pensiun. Ia tidak memiliki alamat tetap di ibu kota, berpindah-pindah dan mencari tempat berteduh di kantor Legiun Veteran Republik Indonesia, serta masjid. Dia sering mengenakan seragam perangnya untuk mengingatkan orang akan masa lalunya, meskipun birokrasi yang rumit menghalanginya untuk mendapatkan pengakuan itu.

Pada tanggal 15 Agustus 1981, aplikasi The Sin Nio akhirnya dikabulkan, tetapi awalnya tidak disertai dengan dukungan keuangan yang sangat dia butuhkan. Setelah beberapa tahun berjuang untuk mendapatkan haknya, dia akhirnya diberikan tunjangan bulanan sebesar Rp26.000 (US$1,83) per bulan, yang hampir tidak menutupi biaya hidupnya. Dia tidak punya pilihan selain menjalani kehidupan sederhana di hari-hari terakhirnya, membuat rumah dari sebuah gubuk kecil di dekat stasiun kereta Juanda sampai dia meninggal pada tahun 1985.

"Dalam kesendiriannya di Jakarta, The Sin Nio meninggal pada tahun 1985 dalam usia 70 tahun. Ia dimakamkan di Pemakaman Layur Rawamangun Jakarta. Makamnya tidak dapat ditemukan lagi karena telah ditumpuk oleh kuburan lain."

Menjadi orang Tionghoa-Indonesia bisa membuat trauma, terutama bagi perempuan. Bahkan setelah revolusi, orang Tionghoa-Indonesia masih menghadapi rasisme dan kekerasan sistematis, terutama pembersihan komunis pada tahun 1965, di mana setidaknya 500.000 orang Indonesia dibantai, dan kekerasan berbasis rasial yang ditargetkan terhadap orang Tionghoa-Indonesia pada tahun 1998.

Halaman: 234Lihat Semua