Melihat Geliat Bisnis Lendir Era Penjajahan Belanda di Nusantara

Jumat, 06 Mei 2022 | 06:59 WIB
Tentara Belanda dan wanita pribumi. Sumber: Internet Tentara Belanda dan wanita pribumi. Sumber: Internet

RIAU24.COM -  Akibat kurangnya jumlah wanita untuk dipekerjakan sebagai PSK, bisnis pelacuran era Kolonial Belanda di Jakarta begitu menggeliat.

Saking mengkhawatirkannya, para budak perempuan pribumi yang dipekerjakan Belanda dipaksa mencari nafkah tambahan dengan menerima jasa sebagai PSK.

Kondisi seperti ini di Jakarta sudah dikenal sejak awal munculnya VOC dikutip dari kurusetra.republika.co.id.

Baca Juga: Erick Thohir Berencana Nginap di Lokasi Asli KKN di Desa Penari, Dimanakah Itu ?

Orang Betawi sendiri pada awalnya tidak mengenal istilah pelacur. Mereka biasanya menyebutnya dengan sebutan cabo, adaptasi dari bahasa Cina caibo dan moler berasal dari bahasa Portugis.

Daerah lokalisasi yang terkenal kala itu berada di Mangga Besar yang berdekatan Glodok sekarang.

Daerah tempat operasi WTS itu sengaja dibuat berdekatan dengan kawasan niaga hingga perhotelan.

Sedangkan tempat konsentrasi pelacur pertama di Batavia adalah Macao Po yang kala itu berdekatan dengan hotel-hotel di depan Stasion Beos (Jakarta kota).

Baca Juga: Ada Apa dengan Hari Kebangkitan Nasional?

Lokalisasi pelacuran ini memang untuk kalangan atas alias mereka yang berkantong tebal. Karena para pelacurnya didatangkan dari Macao oleh jaringan germo Portugis dan Cina.

Seperti mereka seperti para petinggi VOC yang dikenal korup dan taipan atau orang berduit keturunan Cina.

PenulisR24/azhar


Loading...

Loading...