Pria di China Diserbu Netizen Setelah Ia Mengeluh Atas Kelahiran Anak Perempuannya

Senin, 01 Agustus 2022 | 11:25 WIB
Pria di China mengeluh karena mendapatkan anak perempuan /net Pria di China mengeluh karena mendapatkan anak perempuan /net

RIAU24.COM - Pengguna media sosial China terkejut setelah seorang pria mengomel terhadap istrinya saat dia melahirkan seorang bayi perempuan.

Baca Juga: Pria Bersenjata Mencoba Menerobos Kantor FBI di Cincinnati, Ditembak Mati Dalam Kebuntuan

Situs media sosial China, Weibo dibanjiri komentar ketika pria itu mengklaim bahwa dia memiliki nasib buruk setelah mendapatkan seorang putri dan tidak tahan untuk tinggal di rumah sakit selama satu menit.

Pria itu dilaporkan mengatakan bahwa dia sangat kecewa sehingga dia bahkan tidak ingin menyebutkan nama putrinya yang baru lahir saat dia menulis keluhannya ke media sosial untuk mengekspresikan pandangannya.

Dalam sebuah postingan pria itu menulis bahwa dia akan menceraikan istrinya karena melahirkan seorang anak perempuan.

Namun, dia kemudian mengatakan bahwa postingan itu dikirim sebelum istrinya melahirkan dengan mengklaim bahwa itu adalah sebuah keluhan.

Pria itu menegaskan bahwa dia menginginkan anak laki-laki dan berada di bawah tekanan karena dia kehilangan uang dalam penipuan ketika pengguna media sosial mengecam pikiran feodal pria itu.

Sekedar informasi, China mencatat penurunan tingkat kesuburan untuk tahun keempat berturut-turut hingga 2020 karena para ahli memperingatkan jumlah bayi baru lahir bisa turun hingga di bawah 10 juta dalam beberapa tahun.

Dalam laporan yang dirilis dua tahun lalu, Bank Dunia mengatakan tingkat kesuburan China mencapai 1,7 yang merupakan salah satu yang terendah di dunia yang menurun tajam selama beberapa dekade.

Menurut Bank Dunia, tingkat kesuburan China mencapai 5,8 pada tahun 1960 tetapi telah menurun tajam sejak tahun 1980-an.

Baca Juga: McDonald's Akan Dibuka Secara Bertahap di Ukraina Untuk Pertama Kalinya Sejak Perang Dimulai

Pemerintah China telah memperkenalkan kebijakan satu anak (One Child Policy) pada tahun 1979 setahun setelah mengumumkan reformasi ekonomi besar-besaran pada tahun 1978.

Pada 2015, Partai Komunis Tiongkok mengakhiri kebijakan satu anak. Menurut data China terbaru, rasio gender tetap miring di negara dengan 723 juta laki-laki dibandingkan dengan 689 juta perempuan.

(***)

PenulisR24/tya


Loading...
Loading...